Religi

Jangan Ukur Pertolongan Allah dengan Hitungan Manusia ‎

222
×

Jangan Ukur Pertolongan Allah dengan Hitungan Manusia ‎

Sebarkan artikel ini

‎Oleh: Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A.

Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A., dalam refleksi “Jangan Ukur Pertolongan Allah dengan Hitungan Manusia”.

‎MEDAN | TERITORIAL24.COM – Ada masa ketika kita merasa tidak cukup kuat untuk menghadapi keadaan.

‎Kita menghitung apa yang kita punya, lalu membandingkannya dengan besarnya masalah. Kita melihat jumlah orang yang mendukung, kekuatan yang tersedia, kemampuan yang kita miliki, bahkan peluang keberhasilan yang tampak kecil.

‎Lalu hati berkata, “Mungkinkah kita menang?”

‎Di sinilah pelajaran Surah Al-Anfal ayat 5–6 menjadi begitu dalam. Ayat ini menggambarkan bagaimana sebagian orang-orang beriman merasa berat ketika menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan perkiraan mereka.

‎Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

‎«كَمَا أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِن بَيْتِكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ لَكَارِهُونَ»

‎‎“Sebagaimana Rabbmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya.”‎(QS. Al-Anfal: 5)

‎Menariknya, Allah tetap menyebut mereka sebagai orang-orang yang beriman, meskipun mereka merasa berat.

‎Ini pelajaran penting: rasa takut tidak otomatis berarti lemahnya iman.

‎Manusia bisa takut. Manusia bisa ragu. Manusia bisa merasa tidak sanggup. Namun, yang membedakan orang beriman adalah apa yang ia lakukan setelah rasa takut itu datang.

‎Apakah ia menyerah?

‎Atau ia tetap melangkah karena percaya kepada Allah?

‎Ketika Hitungan Manusia Berbeda dengan Rencana Allah

‎Dalam perjalanan menuju Badar, Rasulullah ﷺ dan para sahabat pada awalnya tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi peperangan besar. Namun keadaan berubah. Yang mereka hadapi bukan lagi sekadar kafilah dagang, melainkan pasukan Quraisy dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

‎Maka sebagian sahabat merasa berat.

‎Secara manusiawi, perasaan itu dapat dipahami. Mereka melihat jumlah, persenjataan, dan risiko yang ada di depan mata.

‎Tetapi Allah mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu ditentukan oleh banyaknya kekuatan manusia.

‎Ada saatnya hitungan kita berkata, “Mustahil.”

‎Tetapi pertolongan Allah berkata, “Tidak ada yang mustahil bagi-Ku.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *