Seolah-olah Allah sedang mengajarkan kepada kita:
Jangan berhenti menilai cerita ketika baru membaca satu halaman.
Apa yang hari ini tampak sebagai kesulitan, bisa menjadi jalan menuju pertolongan.
Apa yang hari ini tampak sebagai kehilangan, bisa menjadi awal dari sesuatu yang lebih baik.
Apa yang hari ini membuat kita menangis, bisa menjadi bagian dari proses Allah mendewasakan hati.
Maka jangan ukur pertolongan Allah dengan hitungan manusia.
Kita Hanya Diminta Melangkah
Dalam kehidupan, kita sering menunggu semuanya sempurna sebelum berani bergerak.
Menunggu kuat.
Menunggu kaya.
Menunggu didukung banyak orang.
Menunggu keadaan ideal.
Padahal terkadang Allah tidak meminta kita melihat seluruh jalan.
Allah hanya meminta kita mengambil satu langkah yang benar.
Setelah itu, biarkan Allah mengatur langkah berikutnya.
Sebab iman bukan berarti kita tidak memiliki rasa takut.
Iman adalah ketika rasa takut tidak lagi menjadi penguasa keputusan kita.
Kita boleh menangis, tetapi jangan berhenti berharap.
Kita boleh takut, tetapi jangan meninggalkan kebenaran.
Kita boleh merasa kecil, tetapi jangan meremehkan pertolongan Allah.
Dan kita boleh melihat sedikitnya kekuatan kita, tetapi jangan pernah lupa bahwa kekuatan Allah tidak terbatas oleh hitungan manusia.
Pada akhirnya, mungkin persoalan terbesar dalam hidup bukanlah seberapa besar masalah yang kita hadapi.
Melainkan seberapa besar keyakinan kita kepada Allah ketika masalah itu terlihat lebih besar daripada kemampuan kita.
Karena terkadang Allah membawa kita keluar dari zona nyaman bukan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk menunjukkan bahwa pertolongan-Nya jauh lebih luas daripada apa yang mampu kita hitung.
Jangan ukur pertolongan Allah dengan hitungan manusia.
Sebab ketika manusia berkata, “Tidak mungkin,” kita masih memiliki Allah yang mampu membuka jalan dari arah yang tidak pernah kita bayangkan.***












