“Kebudayaan adalah soft diplomacy kita. Bagi Indonesia, kekayaan budaya adalah soft power untuk dipromosikan ke luar negeri,” tegasnya.
Selain kekayaan budaya, Rico turut memperkenalkan Medan sebagai the city that never sleeps. Menurutnya, wisatawan dapat menikmati beragam kuliner khas Medan hampir selama 24 jam.
Berbagai aktivitas publik seperti Car Free Day dan Car Free Night juga menjadi bagian dari daya tarik Kota Medan karena menghadirkan seni, budaya dan kreativitas anak muda.
Rico bahkan mengajak para buyer dan seller yang mengikuti JWB ke-4 memperpanjang masa kunjungan mereka di Kota Medan.
Ia meminta para peserta menikmati langsung kuliner khas Medan sekaligus mengunjungi Gallery Mustika Deli yang menampilkan berbagai produk unggulan UMKM lokal hasil kurasi.
“Stay one more day di Kota Medan agar memberikan kesan mendalam,” ajaknya.
Rico berharap JWB ke-4 tidak hanya menjadi ajang pertemuan para pelaku pariwisata, tetapi juga mampu memperkuat jejaring, membuka peluang kemitraan dan memperluas promosi Medan sebagai destinasi wisata budaya yang kaya dan beragam.
JWB Ditargetkan Jadi Produk Wisata
Sementara itu, Ketua ASPPI DPD Sumut Achmad Fauzi Lubis mengatakan JWB ke-4 menjadi momentum untuk melibatkan lebih banyak pelaku pariwisata sekaligus memperkuat hubungan antarpelaku industri.
Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi berkembang menjadi produk wisata yang dapat ditawarkan kepada wisatawan.
“Ke depannya akan dijadikan paket wisata,” tegas Achmad Fauzi.
Ia mengatakan potensi Kota Medan perlu diperkenalkan lebih luas, mulai dari kekayaan budaya, kawasan bersejarah, museum, destinasi wisata hingga kuliner.
Potensi tersebut diperkenalkan kepada wisatawan melalui para buyer domestik maupun mancanegara yang mengikuti JWB ke-4.
JWB ke-4 berlangsung pada 5-8 Oktober 2026. Selain mengeksplorasi berbagai potensi wisata di Kota Medan, kegiatan ini juga membawa peserta menjelajahi pariwisata Karo dengan fokus pada Desa Dokan, Kecamatan Merek.












