Religi

Kampus IBS 1 Kubang Gelar SKF dan Bimtek BES, Siapkan Pemimpin Santri Berintegritas

40
×

Kampus IBS 1 Kubang Gelar SKF dan Bimtek BES, Siapkan Pemimpin Santri Berintegritas

Sebarkan artikel ini

Kaderisasi kepemimpinan santri diarahkan pada pembentukan karakter, integritas, keteladanan, dan kepemimpinan berbasis kedekatan hati.

Kegiatan yang mengusung semangat kepemimpinan berbasis kedekatan hati dan keteladanan Rasulullah SAW.(Ist)

Dengan pendekatan tersebut, hubungan antara pengurus BES dan santri junior diharapkan tumbuh berdasarkan rasa hormat, kasih sayang, keteladanan, dan kepercayaan, bukan karena ketakutan maupun intimidasi.

Tiga Fondasi Kepemimpinan Santri

Dalam Bimtek tersebut, terdapat tiga manifestasi kepemimpinan berbasis hati yang menjadi perhatian utama.

Pertama, spiritualitas atau kesalehan. Pemimpin diharapkan mampu menjadi teladan dalam ibadah, kejujuran, kedisiplinan, serta menjaga lisan dan perilaku. Keteladanan nyata dinilai menjadi cara paling kuat dalam memengaruhi santri lainnya.

Kedua, pengabdian dan amanah. Pengurus BES diarahkan memahami bahwa jabatan merupakan amanah untuk melayani. Karena itu, seorang pemimpin tidak hanya memberikan instruksi, tetapi juga bersedia turun tangan, membantu junior, mendengarkan persoalan, dan hadir ketika dibutuhkan.

Ketiga, wibawa dan kasih sayang. Wibawa seorang pemimpin dibangun melalui ketegasan, kedisiplinan, kemandirian, serta konsistensi dalam menjalankan aturan. Namun, ketegasan tersebut tetap harus dibarengi kemampuan mengemong, mengayomi, dan membimbing santri lainnya.

Mencetak Pemimpin Berbasis Adab

Melalui SKF dan Bimtek BES, Kampus IBS 1 Kubang berharap lahir pengurus yang tidak hanya memahami ilmu organisasi, tetapi juga memiliki karakter kepemimpinan yang kuat.

Kepemimpinan santri diharapkan mampu meneladani akhlak Rasulullah SAW dan para sahabat Khulafaur Rasyidin, dengan menempatkan adab, akhlak, amanah, integritas, dan pelayanan sebagai fondasi utama.

Dengan demikian, BES diharapkan menjadi ruang pembelajaran kepemimpinan yang nyata—tempat para santri belajar bahwa menjadi pemimpin bukan tentang seberapa besar kewenangan yang dimiliki, melainkan seberapa besar keteladanan dan manfaat yang mampu diberikan kepada orang lain.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *