TERITORIAL24.COM, MEDAN – Kalau biasanya bendera hitam identik dengan tanda berkabung atau bajak laut, lain cerita dengan yang satu ini.
Halaman Kantor Lurah Kesawan, Kecamatan Medan Barat, justru memamerkan bendera hitam sebagai bentuk pengakuan dosa kolektif: kelurahan ini dinilai sebagai yang paling jorok, Rabu, 7 Januari 2026
Bendera itu berdiri gagah lengkap dengan tiang, seolah tak malu-malu menyampaikan isi hatinya kepada siapa saja yang melintas. Tulisan di kain hitam tersebut bahkan terbilang jujur, nyaris seperti status WhatsApp pejabat yang sedang insaf:
“Kami Jajaran Pemerintahan Kelurahan Kesawan Hari Ini Sebagai Kelurahan Terkotor, Kami Siap Untuk Berubah Menjadi Wilayah Yang Lebih Bersih.”
Sebuah pengakuan yang jarang ditemui di dunia birokrasi, tempat segala sesuatu biasanya “masih dalam proses”.
Sayangnya, ketika wartawan mencoba mengonfirmasi langsung ke sumber utama—yakni Lurah Kesawan, Rahmad Affandy Nasution—yang bersangkutan tak berada di tempat. Staf yang berjaga di ruang depan hanya memberi petunjuk singkat.
“Pak Lurah di Lapangan Merdeka,” katanya.
Pencarian pun berlanjut ke sekitar Lapangan Merdeka hingga Pajak Ikan. Hasilnya nihil. Lurah tak kunjung ditemukan, seolah ikut menghilang bersama kebersihan lingkungan yang dipersoalkan.
Belakangan, misteri keberadaan lurah sedikit terkuak. Melalui sambungan WhatsApp, Sekretaris Lurah memberi klarifikasi.
“Pak Lurah Zoom meeting di Polsek Medan Barat,” ujarnya.
Dengan demikian, bendera hitam itu untuk sementara menjadi satu-satunya pejabat yang berjaga di kantor.
Ia berdiri diam, tak bicara, tapi pesannya sudah cukup keras: Kelurahan Kesawan sedang tidak baik-baik saja—setidaknya soal kebersihan.(Akbar)












