Ia mengajak jamaah memperbanyak zikir, doa, dan istigfar agar hati senantiasa bersih dari rasa iri.
Selain itu, membiasakan mendoakan kebaikan bagi sesama juga menjadi salah satu cara efektif untuk mengikis sifat dengki.
“Jika melihat saudara kita mendapatkan nikmat, jangan berharap nikmat itu hilang. Doakan agar Allah memberkahinya dan berdoalah agar Allah juga memberikan karunia terbaik kepada kita,” pesannya.
Khatib juga mengingatkan pentingnya memiliki sifat qana’ah, yaitu menerima dengan lapang dada setiap ketentuan rezeki yang Allah berikan.
Sebab, setiap manusia memiliki ujian, kesempatan, dan jalan hidup yang berbeda.
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah pernah menjelaskan bahwa hasad merupakan bentuk penentangan terhadap pembagian nikmat yang telah Allah tetapkan kepada hamba-hamba-Nya.
Karena itu, membersihkan hati dari hasad adalah bagian dari kesempurnaan iman.
Jadikan Keberhasilan Orang Lain Sebagai Inspirasi
Pada bagian akhir khutbah, Ustadz Yanda mengajak jamaah mengubah cara pandang terhadap kesuksesan orang lain.
Keberhasilan seseorang tidak seharusnya melahirkan kebencian, tetapi menjadi inspirasi untuk terus belajar, bekerja keras, dan memperbaiki diri.
Menurutnya, waktu seorang muslim akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk meningkatkan kualitas ibadah, menuntut ilmu, memperbaiki akhlak, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT dibandingkan sibuk membandingkan kehidupan dengan orang lain.
Khutbah Jumat tersebut ditutup dengan doa agar Allah SWT membersihkan hati kaum muslimin dari hasad, dengki, riya, dan penyakit hati lainnya.
Jamaah juga diajak memperbanyak rasa syukur atas setiap nikmat yang telah diberikan, karena hati yang dipenuhi syukur akan lebih mudah merasakan ketenangan, menjaga ukhuwah, dan meraih keberkahan dalam kehidupan.***












