Jangan Kejar Kursi Sebelum Siap Memikul Amanah
Di zaman ketika jabatan sering menjadi simbol keberhasilan, pesan Umar justru mengajak kita membalik cara berpikir.
Jangan bertanya lebih dahulu, “Bagaimana saya mendapatkan posisi?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apakah saya sudah mempersiapkan diri untuk mempertanggungjawabkan posisi tersebut?”
Sebab kursi kepemimpinan bukan sekadar tempat duduk.
Di atasnya ada keputusan.
Di balik keputusan ada konsekuensi.
Dan di balik amanah ada pertanggungjawaban.
Karena itu, mengejar jabatan tanpa mempersiapkan ilmu dapat membuat seseorang sibuk mempertahankan posisi, tetapi kurang siap menjalankan substansi amanahnya.
Kepemimpinan bukan hanya tentang berada di depan. Kepemimpinan adalah kesiapan menunjukkan arah.
Ilmu Adalah Jalan Menuju Kemuliaan
Pesan Umar juga mengajarkan bahwa kemuliaan tidak semestinya dikejar melalui kedudukan semata.
Ilmu justru menjadi salah satu bekal yang mengantarkan manusia menuju kemuliaan yang sebenarnya.
Jabatan bisa datang dan pergi.
Popularitas bisa naik dan turun.
Kekuasaan bisa berpindah tangan.
Tetapi ilmu yang bermanfaat dapat terus memberikan pengaruh bahkan setelah seseorang tidak lagi berada dalam sebuah jabatan.
Karena itu, orang yang memahami hakikat ilmu tidak akan mudah mabuk kedudukan.
Semakin tinggi amanahnya, semestinya semakin rendah hati sikapnya.
Semakin luas kewenangannya, semestinya semakin hati-hati keputusannya.
Dan semakin banyak orang yang mengikutinya, semestinya semakin besar kesadarannya untuk terus belajar.
Setelah Menjadi Pemimpin, Belajar Tidak Boleh Berhenti
Pesan “belajarlah sebelum menjadi pemimpin” tentu tidak boleh dipahami bahwa belajar hanya diperlukan sebelum seseorang memperoleh kedudukan.
Justru setelah menjadi pemimpin, kebutuhan untuk belajar semakin besar.
Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya memberikan perhatian terhadap tema belajar sebelum dan setelah seseorang memiliki kedudukan. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak menjadi alasan untuk menghentikan proses menuntut ilmu.












