Teladan para sahabat juga menunjukkan bahwa usia, pengalaman, dan kedudukan tidak menjadikan seseorang berhenti belajar.
Orang yang memiliki kedudukan tetap membutuhkan nasihat.
Orang yang berpengalaman tetap membutuhkan ilmu.
Orang yang dihormati tetap membutuhkan koreksi.
Sebab belajar bukan fase kehidupan. Belajar adalah cara menjalani kehidupan.
Kepemimpinan Dimulai Sebelum Pelantikan
Pada akhirnya, kepemimpinan tidak dimulai ketika seseorang dilantik.
Kepemimpinan dimulai jauh sebelumnya—ketika seseorang membangun ilmu, akhlak, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan memahami persoalan.
Pelantikan hanya menandai dimulainya sebuah amanah secara formal.
Adapun kualitas seorang pemimpin telah ditempa jauh sebelum namanya disebut di atas sebuah panggung.
Maka jangan terlalu sibuk mengejar kursi sebelum mempersiapkan diri untuk duduk di atasnya.
Jangan terburu-buru ingin didengar sebelum belajar mendengar.
Jangan ingin mengatur orang lain sebelum belajar mengatur diri sendiri.
Dan jangan merasa sudah cukup berilmu hanya karena banyak orang memanggil kita dengan gelar kehormatan.
Sebab pemimpin yang baik bukan sekadar orang yang berada di depan. Ia adalah orang yang memiliki ilmu untuk memahami, kebijaksanaan untuk memutuskan, dan kerendahan hati untuk terus belajar.
Itulah kekuatan pesan:
تَفَقَّهُوا قَبْلَ أَنْ تُسَوَّدُوا.
“Belajarlah sebelum menjadi pemimpin.”
Sebuah kalimat singkat yang dapat menjadi kurikulum hidup:
belajar sebelum dipercaya, memahami sebelum memutuskan, mempersiapkan diri sebelum menerima amanah, dan terus belajar meskipun telah berada di tempat yang tinggi.
Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang layak memimpin bukan sekadar tingginya posisi, melainkan kedalaman ilmu, kematangan akhlak, dan kesadaran bahwa setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban.
Wallahu a‘lam.***












