Opini

Limbah Kayu Karet : Energi Bersih Dari Perkebunan Rakyat Untuk Masa Depan Indonesia

922
×

Limbah Kayu Karet : Energi Bersih Dari Perkebunan Rakyat Untuk Masa Depan Indonesia

Sebarkan artikel ini

Oleh Nur Azizah Lubis

Briket Arang, adalah bahan bakar padat yang dibuat dari serbuk kayu, biochar atau bahan campuran bahn organic lainnya yang di compress menjadi bentuk silinder atau kotak. Limah kayu karet sangatlah cocok dijadikan briket terutama bagi masyarakat yanag belum sepenuhnya bergantung pada listrik atau LPG. Briket ini memiliki beberapa kelebihan seperti mampu membakar dan lebih panas daripada kayu bakar biasa, tidak mengeluarkan asap dalam jumlah besar, dan dapat diproduksi di desa dengan peralatan sederhana.

Dapat diubah menjadi minyak dan gas, melalui sebuah teknologi yang dinamakan pirolisis, dimana dilakukan pemanasan biomassa kayu karet tanpa oksigen untuk menghasilkan tiga produk utama yaitu : bio-oil (cairan pekat mirip minyak, yang dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti solar atau pelumas industri), syngas (campuran gas hydrogen dan karbon monoksida yang dapat digunakan untuk memasak atau menghasilkan listrik), char/arang padat (sisa pembakaran yang masih bisa digunakan sebagai bahan bakar padat atau pupuk tanah yang menurut penelitian dapat meningkatkan hasil kualitas tanah saat dikembalikan ke lahan perkebunan.

 

Tantangan dan Solusi

Potensi energi limbah kayu karet bukan lagi omong kosong tapi itu nyata, dapat diukur, dan semakin relevan saat menghadapi tantangan energi dan lingkungan saat ini. Namun, kita masih menghadapi banyak tantangan penting untuk mewujudkannya secara luas. Banyak petani dan usaha kecil dan menengah (UMKM) di lapangan tidak memiliki akses terhadap pelatihan atau alat teknologi sederhana. Namun, mereka dapat menjadi produsen energi lokal yang mandiri dengan dukungan dan pendampingan yang minimal.

Belum adanya peraturan nasional yang spesifik mengenai penggunaan limbah kayu karet sebagai sumber energi terbarukan merupakan masalah tambahan. Inovasi ini akan sulit untuk berkembang dan menyebar secara nasional jika tidak ada kebijakan yang berpihak dan insentif yang cukup kuat untuk mendorong pemanfaatan energi terbarukan berbasis limbah biomassa. Namun dari sisi pajak, subsidi dan skema pembiayaan energi dari kayu karet masih kalah kompetitif dibanding bahan bakar fosil atau energi lain yang lebih mapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *