Polhukam

Menghadapi Ancaman Resesi, Indonesia Harus Hitung Ulang Strategi Ekonomi Global

501
×

Menghadapi Ancaman Resesi, Indonesia Harus Hitung Ulang Strategi Ekonomi Global

Sebarkan artikel ini

Dengan berbagai terobosan dalam kunjungan luar negeri, Presiden Prabowo menunjukkan langkah berani dalam membangun aliansi dan kerjasama baru yang dapat memberikan dampak signifikan bagi Indonesia.

Namun, keberhasilan ini tergantung pada seberapa cepat kabinet bekerja untuk mengimplementasikan visi tersebut dan mengatasi ketidaksempurnaan kebijakan yang sebelumnya ada.

Tantangan terbesar Indonesia ke depan adalah menciptakan stabilitas politik, agar investor luar negeri mau masuk dan berinvestasi.

Ini penting agar tercipta hilirisasi ekonomi yang mampu menggerakkan penciptaan lapangan kerja, mengurangi pengangguran, serta mendorong pemerataan pembangunan yang berkelanjutan.

Selain stabilitas politik, masalah birokrasi yang menghambat dan memperlambat proses ekonomi harus segera dibenahi.

Indonesia juga harus serius menurunkan tingkat korupsi yang masih mengganggu proses pembangunan.

Pembenahan ini akan menciptakan iklim investasi yang lebih baik dan mempercepat akselerasi ekonomi.

Alih-alih meminta Presiden Prabowo melobi Presiden Trump, solusi yang lebih strategis adalah dengan fokus pada pembangunan sektor baru dan memperluas pasar baru.

Sektor-sektor baru yang dapat berkembang, terutama yang berbasis pada sumber daya alam dan maritim Indonesia, harus mendapat prioritas.

Pemerintah perlu memiliki kabinet yang solid, cakap, dan fokus dalam mengeksekusi program-program unggulan. Jangan terjebak dalam seremonial atau audiensi yang tidak menghasilkan progres konkret.

Dalam menghadapi tantangan ekonomi global ini, penting bagi Indonesia untuk belajar dari pengalaman negara-negara Barat, namun tidak menjadi peniru mereka.

Sebaliknya, Indonesia harus mengambil pelajaran dari kebijaksanaan Timur yang telah terbukti dalam memelihara stabilitas ekonomi dan politik. Seperti yang dikatakan oleh Tan Malaka, “Belajarlah dari Barat tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *