Gaya Hidup

Menjaga Bara Melayu di Tanah Deli

603
×

Menjaga Bara Melayu di Tanah Deli

Sebarkan artikel ini

Musyawarah Daerah GAMI Deli Serdang Menjadi Panggung Kebangkitan Budaya Anak Muda

TERITORIAL24.COM, DELISERDANG –Matahari pagi menyelinap malu-malu di balik awan, ketika barisan pemuda bersongket dan bertanjak mulai berdatangan ke Aula Amindy Barokah, Kecamatan Tanjung Morawa, Minggu (4/5/2025).

Di tengah derasnya arus modernisasi dan gempuran budaya luar, mereka datang membawa semangat satu: menjaga bara Melayu agar tak padam di tanah Deli.

Mereka adalah bagian dari Gerakan Angkatan Muda Melayu Indonesia (GAMI), organisasi yang tidak hanya menjadi simpul silaturahmi, tetapi juga ruang perlawanan budaya. Musyawarah Daerah (Musda) ke-V GAMI Deli Serdang hari itu bukan sekadar ajang pergantian kepengurusan, tapi seperti oase di tengah padang gersang identitas.

“Pemuda Melayu harus menjadi agen perubahan. Bukan hanya paham budaya, tapi juga berdaya saing dan berkontribusi bagi pembangunan daerah,” kata Wakil Bupati Deli Serdang, Lom Lom Suwondo, dalam pidatonya yang disambut tepuk tangan.

Lom Lom bukan sedang bernostalgia. Ia mengingatkan, kebangkitan budaya Melayu harus menjadi fondasi masa depan. “Bukan sekadar merawat kenangan, tapi membangun peradaban dari akar,” ujarnya, lantang.

GAMI, dalam pandangan Ketua Umum PB GAMI, Dato’ HM Subandi, adalah wadah aktualisasi pemuda Melayu.

Di hadapan ratusan peserta Musda, ia menegaskan peran GAMI dalam menghidupkan kembali “geliat kemelayuan”.

“Kami bukan hanya penjaga adat. Kami pemuda yang bergerak. Kami generasi yang ingin bersuara, bukan sekadar berpantun,” ujarnya berapi-api.

Musda ke-V ini juga dihadiri oleh Sultan Serdang XI, Drs Achmad Tala’a Syariful Alamsyah. Dalam sambutannya, ia menyuntikkan harapan besar agar GAMI menjadi rumah yang kuat bagi kaum muda Melayu yang kerap tercerai-berai. “Kita harus solid. Jangan mau dikotak-kotakkan. Yang muda harus berani memimpin dan membawa perubahan,” ucapnya.

Di sela-sela pidato-pidato itu, tak sedikit peserta yang memejam sejenak, merenungi perjalanan panjang budaya mereka.

Ada yang datang dari kampung-kampung pesisir dengan sepatu kotor berlumpur, ada pula mahasiswa yang sengaja pulang dari Medan demi hadir di forum ini. Semua percaya, bahwa Melayu bukan sekadar etnis, tapi identitas yang harus terus diperjuangkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *