“Jika anak sulit dibangunkan untuk salat Subuh, jangan dibentak. Sentuh dan usaplah pipinya yang merupakan bagian sensitif,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, sentuhan sederhana dari orang tua dapat menjadi simbol kasih sayang yang membekas dalam diri anak.
Pesan tersebut semakin menyentuh suasana ketika sejumlah wali santri menyampaikan pertanyaan sekaligus pengalaman dalam mendampingi anak. Bahkan, terdapat orang tua yang terharu saat mengungkapkan penyesalan atas sikap keras yang pernah dilakukan kepada anak.
Dalam kesempatan itu, Ustadz Muh Taufik mengingatkan bahwa kebutuhan anak terhadap orang tua tidak semata-mata berkaitan dengan materi.
Menurutnya, anak membutuhkan kehadiran fisik dan emosional ayah serta ibu.
Sentuhan di kepala, pundak, atau pipi, perhatian ketika makan bersama, hingga doa orang tua menjadi bentuk kasih sayang yang dapat membangun ikatan batin antara anak dan orang tua.
Ia juga mendorong para ayah untuk memperlihatkan keteladanan ibadah di hadapan anak, termasuk melalui doa dan salat malam, sehingga anak dapat merasakan kasih sayang sekaligus keteladanan spiritual dari orang tuanya.
Sinergi Rumah dan Pesantren
Konsep prophetic touch atau sentuhan kenabian juga menjadi salah satu pendekatan yang ditekankan dalam pengasuhan santri di lingkungan Pesantren IBS.
Para guru, ustaz, dan musyrif didorong untuk mendampingi santri dengan pendekatan penuh kasih sayang.
Dengan demikian, lingkungan pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuh yang memberikan rasa aman, nyaman, dan tenteram.
Sinergi antara rumah dan pesantren dinilai menjadi bagian penting dalam membentuk karakter anak.
Pendidikan yang diberikan guru di pesantren perlu diperkuat dengan pola asuh yang selaras ketika santri kembali berada di rumah.
Menutup pemaparannya, Ustadz Muh Taufik menegaskan bahwa ketika cinta, perhatian, keteladanan, dan pendidikan berjalan selaras antara rumah dan pesantren, proses pembentukan karakter anak akan menjadi lebih kuat.
Dari sinergi tersebut diharapkan lahir generasi yang memiliki akhlak mulia, kecintaan terhadap ilmu dan agama, serta mampu menjadi bagian dari penggerak kemajuan umat dan peradaban di masa mendatang.***












