Kota Medan

SAPA KOTA dan Ultimatum di Balai Kota

211
×

SAPA KOTA dan Ultimatum di Balai Kota

Sebarkan artikel ini

Untuk jalan berlubang dan infrastruktur lain, ia meminta perangkat daerah yang telah ditugaskan memantau wilayah tertentu menyampaikan laporan harian.

Dengan pola itu, dinas teknis—termasuk Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi—diharapkan bisa bergerak cepat.

Efektivitas sistem ini, menurut Rico, sangat bergantung pada kedisiplinan pelaporan.

Ia bahkan meminta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah memberi peringatan kepada OPD atau camat yang pasif.

“Kalau ada yang tidak memberikan laporan setiap hari, berikan warning,” katanya.

 

Stadion Teladan dan Citra Kota

 

Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap menambahkan catatan lain: tumpukan sampah di sekitar Stadion Teladan.

Stadion yang tengah direvitalisasi itu disebutnya sebagai ikon kota. Sampah di sekitarnya, kata dia, bukan sekadar soal kebersihan, melainkan citra.

“Kalau ada tumpukan sampah di sekitar stadion, sangat tidak layak dan merusak estetika,” ujarnya.

Ia meminta solusi permanen, terutama terkait keberadaan tempat pembuangan sementara yang kerap meluber.

Zakiyuddin juga menyinggung persoalan hewan ternak—babi dan kambing—yang dipelihara di sekitar permukiman warga.

Selain melanggar aturan, keberadaannya dinilai mengganggu kenyamanan lingkungan.

 

Menguji Disiplin Birokrasi

 

Di atas kertas, SAPA KOTA tampak sebagai inovasi sederhana: memanfaatkan percakapan digital untuk mengurai problem kota. Namun di lapangan, tantangannya lebih kompleks—disiplin birokrasi, koordinasi lintas dinas, dan konsistensi pengawasan.

Ultimatum Rico kepada para camat menjadi penanda bahwa kesabaran pemerintah kota mulai menipis. Sampah, jalan rusak, lampu padam—semua adalah persoalan klasik kota besar. Yang kini dipertaruhkan bukan hanya kebersihan, melainkan wibawa tata kelola.

Rico menutup rapat dengan satu garis tegas: penanganan kota tak boleh dibebankan pada satu pihak. “Seluruh perangkat daerah dan camat harus saling membantu untuk membangun Kota Medan,” katanya.

Apakah peringatan itu cukup untuk mengubah wajah kota? SAPA KOTA, dan kedisiplinan para pejabatnya, akan menjadi jawabannya.(Anggi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *