Pariwisata dan Travelling

SMK Pariwisata Gratis di Samosir, Bobby Nasution Ingin Danau Toba Tak Cuma Indah, tapi Juga Punya SDM Kelas Dunia

235
×

SMK Pariwisata Gratis di Samosir, Bobby Nasution Ingin Danau Toba Tak Cuma Indah, tapi Juga Punya SDM Kelas Dunia

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, JAKARTA – Kalau selama ini orang datang ke Danau Toba buat menikmati pemandangan, beberapa tahun lagi mungkin mereka juga bakal dilayani lulusan sekolah yang memang disiapkan khusus untuk industri pariwisata.

Itulah rencana yang dibawa Gubernur Muhammad Bobby Afif Nasution. Dalam Rapat Kerja Nasional Punguan Simbolon dohot Boruna Indonesia di Jakarta, ia mengumumkan bakal membangun SMK unggulan bidang pariwisata di Samosir.

Bukan SMK biasa. Sekolah ini bakal mengusung konsep boarding school. Artinya, para siswa tinggal di asrama dan seluruh biaya pendidikan ditanggung Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Bukan cuma urusan belajar di kelas, pembentukan karakter dan kesiapan mental juga masuk paketnya.

“Ini akan menjadi SMK Pariwisata,” kata Bobby saat menyampaikan sambutan di hadapan peserta Rakernas.

 

Bukan Sekadar Bangun Gedung

 

Rencana pembangunan sekolah ini rupanya sudah melewati tahap wacana. Lahan disebut telah disiapkan oleh Pemerintah Kabupaten Samosir, sementara Detail Engineering Design (DED) juga sudah rampung.

Kalau semua berjalan sesuai rencana, Samosir bakal punya sekolah yang memang didesain untuk mencetak tenaga kerja pariwisata.

Targetnya cukup jelas: mendukung ambisi kawasan Danau Toba menjadi destinasi wisata kelas dunia.

Selama ini pembangunan destinasi wisata sering identik dengan jalan mulus, hotel baru, atau dermaga yang diperbaiki.

Padahal, pelayanan wisata juga ditentukan oleh kualitas manusianya. Dari pemandu wisata, pengelola hotel, pelaku UMKM, hingga pengelola destinasi.

 

Budaya Jangan Cuma Disimpan di Museum

 

Dalam kesempatan yang sama, Bobby juga menyinggung soal pelestarian budaya. Menurutnya, budaya tidak cukup hanya dijaga sebagai warisan, tetapi juga harus mampu menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Karena itu, ia mendorong agar budaya Batak dikembangkan melalui industri kreatif. Seni, tradisi, hingga berbagai produk budaya dinilai bisa memiliki nilai ekonomi tanpa kehilangan identitasnya.

Logikanya sederhana. Budaya yang hidup adalah budaya yang dipakai, diproduksi, dan memberi manfaat bagi masyarakatnya, bukan sekadar dipajang saat acara seremonial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *