TERITORIAL24.COM, PADANG, Sumatera Barat – Kota Padang dan sekitarnya dilanda tragedi dahsyat akibat hujan deras yang mengguyur sejak Kamis hingga pagi ini. Sungai Minturun meluap, menghantam pemukiman di bantaran dengan arus deras bercampur lumpur, batang pohon, dan puing bangunan. Rumah hancur, jembatan putus, dan ribuan warga terpaksa meninggalkan rumah mereka, membawa trauma mendalam.
Korban Jiwa dan Pengungsi
Data terakhir mencatat 12 warga meninggal dunia, sebagian besar terjebak di rumah yang tertimbun longsor atau hanyut terbawa arus. Ribuan warga lainnya mengungsi ke posko darurat di sekolah, masjid, dan balai desa, membawa hanya pakaian yang menempel di tubuh mereka. Anak-anak menangis, lansia ketakutan, dan keluarga yang selamat saling berpegangan, berharap keselamatan.
Hujan Masih Turun, Risiko Bertambah
Pagi ini (Jumat, 28/11/2025), beberapa daerah di Sumatera Barat masih diguyur hujan deras. Kondisi ini meningkatkan risiko:
Banjir susulan di wilayah terdampak sebelumnya.
Longsor tambahan di perbukitan dan daerah rawan longsor.
Potensi penambahan korban jiwa dan luka-luka, terutama di wilayah yang belum sempat dievakuasi sepenuhnya.
Kerusakan Infrastruktur Kritis
Jembatan di Koto Luar putus total, memutus akses vital.
Jalan desa tertimbun longsor, beberapa rumah hanyut atau rusak berat.
Listrik dan komunikasi terputus di sejumlah nagari, menambah isolasi warga terdampak.
Tim Gabungan Bergerak Cepat
BPBD Kota Padang, BPBD Provinsi Sumbar, TNI-Polri, dan dinas terkait bekerja tanpa henti. Mereka mengevakuasi warga, membuka jalan, menyalurkan makanan, obat-obatan, dan air bersih. Wakil Gubernur Sumbar, Vasko Ruseimy, menegaskan status tanggap darurat dan meminta seluruh aparat serta relawan bersinergi menyelamatkan korban.
Suara Warga Terdampak
Seorang ibu korban longsor menahan tangis:
“Semua harta kami hilang, anak-anak saya ketakutan. Kami hanya bisa bertahan dan berharap bantuan datang secepatnya.












