Tahun depan, Pendawa berencana menambahkan gelaran wayang kulit dan bazar budaya.
“Pendawa bukan hanya menjaga tradisi, tapi juga menjembatani antar generasi dalam merawat identitas budaya,” kata Wakil Bupati.
Ketua Pengurus Besar Pendawa Indonesia, H. Ruslan, turut hadir dan menyampaikan apresiasi atas kegiatan ini.
Ia menyebut semangat gotong royong dan kekeluargaan yang ditampilkan menjadi teladan bagi daerah lain.
Harmoni di Tengah Keberagaman
Kepala Desa Wonosari, Suparman, menyebut kenduri ini sebagai momen penting untuk mempererat silaturahmi warga.
“Di sini kita guyub, saling sapa, dan saling doakan. Tak hanya warga Jawa, semua unsur masyarakat hadir,” ujarnya.
Kehadiran tokoh lintas lembaga—dari DPRD, Forkopimda, hingga perangkat OPD—menunjukkan bahwa Kenduri Suroan tak sekadar peristiwa budaya, tapi juga ruang dialog sosial antara masyarakat dan pemerintah.
Anggota DPRD Deli Serdang, Purwaningrum dan M. Dahnil Ginting, juga tampak hadir.
Mereka menyebut, tradisi semacam ini penting dipertahankan sebagai jantung dari keberagaman yang harmonis di Deli Serdang.
Wakil Bupati pun menutup sambutannya dengan ajakan. “Teruslah jaga persaudaraan. Jadilah mitra pemerintah dalam membangun daerah dengan semangat budaya. Karena budaya adalah nafas peradaban.”
Suroan di Deli Serdang bukan hanya ritual. Ia adalah pesan dari masa lalu yang terus bergema: tentang syukur, persatuan, dan akar yang harus terus dijaga.(yu_di)












