Asahan - Tanjungbalai

Tangis dan Nestapa, Kematian Tragis Bocah 4 Tahun Akibat Dugaan Salah Diagnosis Difteri di Tanjungbalai

613
×

Tangis dan Nestapa, Kematian Tragis Bocah 4 Tahun Akibat Dugaan Salah Diagnosis Difteri di Tanjungbalai

Sebarkan artikel ini
Efri Zuandi dan Yuli Andriani, pasangan suami istri dari Kecamatan Sei Tualang Raso, Kota Tanjungbalai saat memberikan keterangan. (ilham)

Di sana, keajaiban terjadi. Pemeriksaan dokter Lim Ai Tyng membuktikan bahwa kedua putri mereka tidak terinfeksi difteri, melainkan hanya mengalami radang amandel atau Tonsillitis. Dalam waktu tiga hari, kedua anak mereka dinyatakan sehat dan diperbolehkan pulang.

“Bayangkan, anak-anak kami hampir menjadi korban berikutnya dari dugaan malpraktik ini! Kami kehilangan satu anak karena kesalahan diagnosis, dan yang lain hampir menyusul,” ungkap Efri dengan mata merah dan suara gemetar.

Namun, cobaan tak berhenti di situ. Kepulangan mereka ke Indonesia justru diwarnai perlakuan yang menyakitkan. Mereka sempat dihalangi pihak Dinas Kesehatan Kota Tanjungbalai saat ingin berobat ke Malaysia.

Setibanya di Bandara Kuala Namu, mereka dipaksa menjalani karantina karena dianggap terinfeksi difteri. Baru setelah memperlihatkan hasil laboratorium dari Malaysia, mereka diizinkan melanjutkan perjalanan.

Seolah belum cukup, pada 22 Januari 2025, rumah mereka didatangi pihak Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, dan Dinas Kesehatan Kota Tanjungbalai.

Dengan tetap bersikeras, mereka menyatakan bahwa kedua putri Efri dan Yuli positif difteri dan harus diisolasi.

Kini, dalam balutan duka yang tak berujung, Efri dan Yuli memilih untuk menempuh jalur hukum. Mereka menggandeng penasehat hukum Rina Astati Lubis dan Frans Handoko Hutagaol demi mencari keadilan bagi putri mereka yang telah pergi untuk selamanya.

Mereka ingin nama baik keluarga mereka dipulihkan, dan tak ada lagi nyawa yang melayang akibat dugaan kesalahan diagnosis yang fatal.

“Satu nyawa sudah melayang. Kami tidak ingin ada lagi orang tua yang merasakan kehilangan seperti kami. Kami akan berjuang, demi anak kami yang telah tiada,” kata Efri dengan suara yang nyaris patah.

Hingga berita ini ditayangkan, pihak Dinas Kesehatan Kota Tanjungbalai maupun dokter Johan S.Pa belum dapat dikonfirmasi. Keheningan mereka menambah luka di hati keluarga yang telah kehilangan segalanya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *