Peristiwa

‎Tangis Kompol Cosmas: Saat Seragam Harus Ditanggalkan dengan Luka ‎

710
×

‎Tangis Kompol Cosmas: Saat Seragam Harus Ditanggalkan dengan Luka ‎

Sebarkan artikel ini
‎Kompol Cosmas K. Gae(foto: Twitter@chillmarket_)

‎TERITORIAL24.COM, JAKARTA- Di ruang sidang Komisi Kode Etik Profesi Polri, suasana mendadak menjadi sendu. Kompol Cosmas K. Gae, sosok yang pernah berdiri tegak dengan seragam kebanggaan, akhirnya harus menunduk dalam linangan air mata. Putusan tegas dijatuhkan: Pemberhentian Tidak dengan Hormat (PTDH),Kamis(4/9/2025).

‎Ia bukan hanya kehilangan jabatan, tetapi juga sebagian dari harga diri yang selama ini dijaganya dengan pengabdian.

‎Hukuman penempatan khusus enam hari di ruang Provos Biro Propam Polri pun telah dijalani, seakan menjadi penanda bahwa perjalanan panjangnya di tubuh Polri berakhir dengan kepedihan.

‎Di hadapan majelis, suara Cosmas bergetar, patah-patah oleh tangis yang tak terbendung.

‎ “Dengan kejadian atau peristiwa, bukan menjadi niat. Sungguh-sungguh demi Tuhan. Tidak ada niat menyakiti orang, malah sebaliknya,” ucapnya, seakan memohon pengertian pada semesta.

‎Ia menegaskan, dirinya hanya menjalankan tugas,sebuah tanggung jawab yang diperintahkan institusi, demi keamanan masyarakat.

‎Namun, takdir berkata lain. Nyawa seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, melayang dalam insiden itu.

‎Tragedi yang kelam, yang kemudian menyeret namanya dalam pusaran sidang etik.

‎Air mata yang jatuh dari mata seorang perwira bukan sekadar tanda kelemahan, melainkan bahasa hati yang tak sanggup diucapkan kata.

‎Cosmas menanggung beban antara kesetiaan pada tugas dan penyesalan atas nyawa yang tak mungkin kembali.

‎Polri, melalui Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, memastikan bahwa seluruh proses telah berjalan sesuai aturan.

‎Sementara Cosmas sendiri masih menimbang langkah, apakah menerima kenyataan atau mengajukan banding atas putusan itu.

‎Kini, publik menyaksikan sebuah kisah tentang seragam yang harus ditanggalkan dengan luka.

‎Tentang seorang polisi yang menitikkan air mata di hadapan institusi yang pernah ia bela.

‎Dan tentang tragedi yang mengingatkan kita semua: bahwa di balik ketegasan hukum, selalu ada wajah kemanusiaan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *