Berita Utama

Libur Sekolah, Puncak Kepadatan Penumpang KA di Sumut Tembus 10.379 Pelanggan dalam Sehari

129
×

Libur Sekolah, Puncak Kepadatan Penumpang KA di Sumut Tembus 10.379 Pelanggan dalam Sehari

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, MEDAN – Volume pengguna jasa kereta api di wilayah Sumatera Utara mencatatkan rekor tertinggi pada masa libur sekolah tahun ini.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara mencatat hari Minggu (28/6) sebagai puncak kepadatan penumpang dengan total 10.379 pelanggan yang bepergian dalam satu hari.

Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, mengungkapkan bahwa angka tersebut mencerminkan peningkatan signifikan, mencapai 112 persen dari total kapasitas tempat duduk yang disediakan sebanyak 9.228 kursi.

“Dalam sekali perjalanannya, KA Sribilah Fakultatif relasi Stasiun Rantauprapat menuju Stasiun Medan menjadi kereta api yang paling banyak digunakan oleh masyarakat di Sumatera Utara. Sebanyak 710 pelanggan memanfaatkan perjalanan KA tersebut untuk menuju sejumlah destinasi,” ujar Anwar.

Anwar mengungkapkan, jumlah 710 pelanggan pada KA Sribilah Fakultatif tersebut setara dengan 134 persen dari kapasitas yang tersedia sebanyak 530 tempat duduk.

Antusiasme tinggi ini tidak hanya terjadi pada rute tersebut. Tercatat, sebanyak 15 perjalanan KA lainnya di wilayah Divre I Sumatera Utara juga mencatatkan okupansi hingga 100 persen.

“Dengan tingkat keterisian yang cukup tinggi untuk masing-masing KA yang beroperasi di Sumatera Utara, menunjukkan banyak masyarakat mempercayakan perjalanannya menggunakan kereta api meskipun untuk bepergian jarak dekat,” tambahnya.

Kenaikan volume penumpang yang masif membawa dampak domino yang positif bagi urat nadi perekonomian di Sumatera Utara. Kereta api telah bertransformasi sebagai motor penggerak ekonomi daerah melebihi perannya sebagai sarana mobilitas masyarakat.

Tingginya aktivitas pergerakan masyarakat di stasiun-stasiun secara langsung menghidupkan ekosistem Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjajakan produk lokal di area sekitar stasiun.

Selain itu, integrasi antarmoda yang semakin matang di stasiun memberikan kemudahan akses bagi penumpang untuk melanjutkan perjalanan menggunakan angkutan lanjutan, seperti taksi, angkutan kota, maupun ojek daring. Kemudahan aksesibilitas ini mendorong perputaran roda ekonomi yang lebih cepat, efisien, dan merata dari pusat kota hingga ke wilayah penyangga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *