PELALAWAN | TERITORIAL24.COM – Khotbah tidak cukup hanya memukau jemaah melalui kata-kata indah, humor, atau kepiawaian berbicara.
Lebih dari itu, dakwah harus mampu menyentuh hati, mencerahkan akal, memperbaiki perilaku, dan mendorong perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam Pelatihan Nasional 10.000 Khotib IKADI bertema “Moderat, Berintegritas, dan Cakap Digital” yang digelar Sabtu, 24 Oktober 2026, di Masjid Al ‘Azhim, Jalan Batu Ampar Seminai, Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau.
Dalam kegiatan tersebut, Muh Taufik HS, S.Ag., CWC, penulis buku dan trainer, membawakan materi kedua bertajuk “Retorika Khotib: Membangun Jiwa Profetik, Perubahan Jiwa, Qolbu, dan Amal dalam Kehidupan Masyarakat.”
Menurut Muh, retorika khotbah sejatinya bukan sekadar seni berbicara di atas mimbar, melainkan instrumen dakwah untuk membangun kesadaran spiritual dan menggerakkan perubahan perilaku umat.
“Khotbah bukan sekadar seni merangkai kata untuk memikat telinga jemaah. Retorika dakwah yang hakiki harus mampu memengaruhi akal, menyentuh qolbu, dan melahirkan perubahan nyata dalam perilaku manusia,” ujarnya kepada media.
Khotbah Bukan Sekadar Hiburan Spiritual
Muh menilai, keberhasilan dakwah tidak semestinya hanya diukur dari gelak tawa, tepuk tangan, popularitas dai, atau jumlah penonton di media digital.
Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana pesan agama mampu mendorong jemaah memperbaiki diri dan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, khotbah yang hanya meninggalkan kekaguman terhadap sosok penceramah, tetapi tidak menggerakkan perubahan perilaku, perlu dievaluasi dari segi tujuan dan pendekatan dakwahnya.
“Jika pesan dakwah hanya berhenti pada sesuatu yang enak didengar, sementara jemaah tidak terdorong memperbaiki diri, maka tujuan transformatif dakwah belum tercapai,” jelasnya.
Ia menjelaskan, dakwah yang transformatif harus membawa pengaruh hingga ke luar masjid. Nilai-nilai yang disampaikan di mimbar semestinya tercermin dalam kehidupan keluarga, lingkungan kerja, aktivitas ekonomi, serta hubungan sosial kemasyarakatan.












