Membangun Jiwa Profetik melalui Retorika
Dalam materinya, Muh menekankan pentingnya menyentuh tiga dimensi manusia, yakni akal, hati atau qolbu,dan amal nyata.
Ketiganya perlu menjadi perhatian khatib agar pesan agama tidak hanya dipahami, tetapi juga dihayati dan diamalkan.
Menurutnya, akal perlu diterangi melalui pemahaman agama yang benar dan relevan dengan persoalan masyarakat.
Qolbu disentuh melalui ketulusan, empati, kisah yang mengandung pelajaran, serta pendekatan komunikasi yang merangkul, bukan sekadar menghakimi.
Adapun perubahan perilaku menjadi bagian penting dari keberhasilan dakwah karena nilai-nilai yang disampaikan perlu diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Seorang khatib tidak cukup hanya mempersiapkan materi dan mengasah kemampuan berbicara. Ia juga harus membangun kualitas ruhiyah, menjaga integritas, dan memberikan keteladanan agar pesan yang disampaikan selaras dengan perilakunya,” ungkap Muh.
Ia menambahkan, khatib profetik harus memiliki kesungguhan dalam membina diri, memperkuat hubungan dengan Allah SWT, serta terus meningkatkan kapasitas keilmuan dan kemampuan komunikasinya.
Dari Mimbar Menuju Perubahan Masyarakat
Muh berpandangan, tantangan dakwah pada era digital semakin kompleks. Ceramah kini dapat diakses melalui berbagai platform, sehingga khatib perlu mampu menyampaikan pesan yang menarik sekaligus bermakna bagi kehidupan jemaah.
Menurutnya, materi khotbah perlu dikaitkan dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, mulai dari tanggung jawab keluarga, kejujuran dalam bekerja, kepedulian terhadap sesama, hingga komitmen menegakkan nilai-nilai kebaikan.
“Khotbah harus mengantarkan jemaah dari pemahaman menuju pengamalan. Apa yang didengar di mimbar hendaknya menjadi dorongan untuk memperbaiki diri, memperkuat kepedulian sosial, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Karena itu, khatib perlu merumuskan pesan yang jelas, kontekstual, dan aplikatif agar jemaah mengetahui langkah konkret yang dapat dilakukan setelah meninggalkan masjid.












