TERITORIAL24.COM,Gaza– Sedikitnya 35 warga Palestina tewas dan 55 lainnya luka-luka dalam serangkaian serangan udara yang dilancarkan Israel di lingkungan permukiman padat Shujayea, Kota Gaza, pada Rabu (10/4).
Sekitar 80 orang masih dinyatakan hilang dan diduga tertimbun di bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan pengeboman tersebut.
Mengutip laporan Al Jazeera, saksi mata di lokasi menggambarkan serangan itu sebagai “pembantaian dalam arti kata yang sesungguhnya”.
Warga menyaksikan jenazah anak-anak dan perempuan dievakuasi dari puing-puing, sementara suara tangisan dan teriakan minta tolong masih terdengar dari bawah reruntuhan.
“Ini bukan hanya serangan biasa, ini adalah pembantaian yang disengaja terhadap warga sipil,” ujar seorang warga Shujayea kepada Al Jazeera.
Tim penyelamat dan petugas medis bekerja tanpa henti dengan peralatan terbatas.
Rumah sakit di wilayah tersebut, yang sudah kewalahan akibat lonjakan jumlah korban sejak awal perang, mengeluarkan seruan darurat kepada masyarakat untuk mendonorkan darah.
Dalam perkembangan terkait, militer Israel juga melancarkan penggerebekan besar-besaran di kamp pengungsi Balata dan wilayah sekitar Nablus di Tepi Barat yang diduduki, memicu ketegangan baru di wilayah tersebut.
Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan bahwa jumlah korban tewas akibat agresi militer Israel sejak Oktober 2023 telah mencapai 50.810 jiwa, dengan 115.688 orang lainnya luka-luka.
Sementara itu, Kantor Media Pemerintah Gaza memperbarui jumlah korban menjadi lebih dari 61.700, termasuk ribuan orang yang masih hilang dan diyakini telah meninggal tertimbun reruntuhan.
Sebagai latar belakang, serangan besar-besaran Israel ke Gaza dimulai setelah serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sedikitnya 1.139 orang di Israel dan menyebabkan lebih dari 200 orang diculik ke Jalur Gaza.
Al Jazeera melaporkan bahwa situasi kemanusiaan di Gaza kini sangat genting.
Sebagian besar fasilitas kesehatan lumpuh, akses terhadap air bersih dan makanan sangat terbatas, sementara ribuan warga hidup dalam kondisi pengungsian tanpa perlindungan.












