Opini

Menanam Kepedulian, Menumbuhkan Karakter: Literasi Lingkungan di SDN Hutabaris

455
×

Menanam Kepedulian, Menumbuhkan Karakter: Literasi Lingkungan di SDN Hutabaris

Sebarkan artikel ini

Oleh: Hotma Tiolina Siregar

TERITORIAL24.COM, LINTONGNIHUTA — Suatu pagi yang cerah di SDN 177060 Hutabaris, suara cangkul kecil bersahutan dengan tawa riang anak-anak.

Di halaman sekolah yang sederhana namun rindang, sekelompok siswa sibuk menanam bibit pohon.

Tak jauh dari mereka, siswa lain tengah membersihkan lingkungan sekitar sambil bercanda. Pemandangan ini bukan kegiatan satu kali, melainkan bagian dari upaya sistematis membangun kesadaran lingkungan sejak dini—sebuah implementasi nyata dari literasi lingkungan.

Di bawah bimbingan dosen pendamping lapangan, Hotma Tiolina Siregar, dan mahasiswa program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Universitas Quality, SD ini menjadi laboratorium kecil untuk pembentukan karakter peduli lingkungan.

Program ini tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga menanamkan kebiasaan: membuang sampah pada tempatnya, jadwal piket kelas, kerja bakti setiap Jumat, hingga kegiatan penghijauan.

“Anak-anak tidak hanya diberi tahu soal pentingnya lingkungan, tapi diajak langsung untuk menjaganya,” kata Hotma, yang memimpin program ini sejak awal semester. “Dari tindakan sederhana seperti membersihkan kelas atau menanam pohon, terbentuk kesadaran yang perlahan menjadi karakter.”

 

Membangun Literasi Melalui Tindakan

 

Literasi lingkungan bukan sekadar membaca atau menulis tentang alam. Ini tentang memahami hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan, lalu bertindak sesuai kesadaran tersebut.

Di SDN Hutabaris, pendekatan ini dilakukan melalui pengalaman nyata yang dikaitkan langsung dengan kegiatan belajar mengajar.

Menurut para mahasiswa MBKM, siswa lebih mudah menyerap makna kepedulian saat mereka diberi peran langsung. Salah satu siswa bahkan berkata, “Kalau tidak kami bersihkan, sekolah jadi kotor. Pohon juga bikin sekolah jadi adem.” Ucapan singkat, tapi menggambarkan internalisasi nilai yang kuat.

Program ini juga mendorong guru untuk mengadopsi metode outdoor study, yakni pembelajaran berbasis pengalaman langsung di luar kelas. Pendekatan ini efektif memecah sekat antara materi akademik dan realitas sehari-hari. Alih-alih sekadar menghafal fungsi tanaman, siswa kini belajar lewat menyiram dan merawat tanaman itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *