Peristiwa

Aksi Unjuk Rasa Kades di Sergai Menguap, Dari Rencana Ribuan Masa Menjadi Audiensi

422
×

Aksi Unjuk Rasa Kades di Sergai Menguap, Dari Rencana Ribuan Masa Menjadi Audiensi

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, SERDANG BEDAGAI — Situasi politik lokal di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, kian menghangat. Namun di tengah eskalasi wacana publik soal dugaan penyimpangan Dana Desa, justru terjadi manuver tak terduga.

Ratusan kepala desa yang sebelumnya merencanakan aksi unjuk rasa besar-besaran, tiba-tiba membatalkan rencana itu tanpa penjelasan memadai.

Surat pemberitahuan aksi bertanggal 2 Juli 2025 menyebutkan bahwa sekitar 2.500 kepala desa dan perangkat desa dari 17 kecamatan akan turun ke jalan pada Senin pagi (7/7/2025) untuk menyuarakan keresahan mereka atas tuduhan yang mereka anggap mengganggu stabilitas desa.

Aksi damai itu dijadwalkan berlangsung di depan Polres dan Kejari Sergai. Namun pada hari pelaksanaan, tak lebih dari 50 orang yang hadir, itupun tanpa atribut aksi.

Dari unjuk rasa masif berubah menjadi audiensi terbatas. Tanpa spanduk, tanpa pengeras suara, dan tanpa pernyataan resmi pembatalan, kehadiran para kepala desa lebih menyerupai kunjungan tertutup dibanding sebuah mobilisasi publik.

Sampai berita ini diturunkan, isi pembahasan dalam audiensi juga belum dikonfirmasi secara jelas ke publik.

Ketika dikonfirmasi wartawan via WhatsApp, Kasat Intelkam Polres Sergai, AKP Siswoyo, tak memberikan tanggapan. Pihak Kejari Sergai, melalui Kasi Intel Afif Muhammad, mengakui menerima surat pemberitahuan aksi, namun menyebut para kepala desa tak pernah muncul di lokasi.

“Kami dengar memang ada demo terkait penolakan pemerasan oleh aliansi. Tapi detailnya kami belum tahu. Pembatalan aksi juga tidak diberitahukan ke kami,” ujarnya, Senin (7/7/2025).

Sinyal-sinyal ketidakterbukaan muncul dari para tokoh kunci yang sebelumnya aktif dalam rencana aksi.

Muliono, Kepala Desa Sei Rejo sekaligus koordinator aksi, tidak merespons panggilan dan pesan singkat.

Begitu pula Budi Santoso, Kades Mangga Dua yang semestinya menjadi penggerak aksi dengan tema “Tolak Pemerasan oleh Oknum Aliansi”.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan lebih besar: mengapa aksi yang telah dirancang dengan melibatkan ribuan orang bisa tiba-tiba sirna begitu saja? Apakah ada intervensi, tekanan, atau justru kompromi diam-diam yang terjadi di balik layar?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *