Kondisi ini mencerminkan dinamika kuasa yang rumit di tingkat lokal. Ketika kritik terhadap Dana Desa mencuat lewat aksi warga yang menamakan diri sebagai “Aliansi”, justru reaksi balik dari para kepala desa tampak canggung dan membingungkan.
Bukan tidak mungkin, pembatalan ini adalah sinyal adanya tarik-menarik kepentingan yang belum selesai—dan justru baru saja dimulai.
Di tengah sorotan terhadap penggunaan Dana Desa dan dugaan praktik pemerasan yang berbalut nama aliansi, publik Sergai kini menunggu satu hal: transparansi.
Tanpa itu, kegaduhan ini hanya akan menjadi babak baru dari sandiwara kekuasaan yang dipentaskan tanpa penonton yang benar-benar mengerti lakonnya.(Tim)












