Religi

Allah Mendidik Kita Bersatu dalam Shalat Jama’ah

168
×

Allah Mendidik Kita Bersatu dalam Shalat Jama’ah

Sebarkan artikel ini

Oleh: Jufri

Ketua Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi,Jufri

Pernahkah kita sungguh-sungguh memperhatikan proses shalat jama’ah? Bukan sekadar hadir, berdiri, rukuk, sujud, lalu pulang.

Tetapi menghayati bagaimana setiap gerakan, setiap ketentuan, dan setiap detailnya merupakan pendidikan yang sangat halus tentang persatuan, kepemimpinan, serta adab dalam menyikapi perbedaan.

Shalat jama’ah bukan hanya ibadah individual yang dilakukan bersama-sama.

Ia adalah miniatur kehidupan sosial yang ditata langsung oleh syariat—sebuah madrasah yang membentuk karakter umat.

Kepatuhan yang Sadar, Bukan Membabi Buta

Dalam shalat jama’ah, ada imam dan ada makmum. Imam berdiri di depan, makmum mengikuti di belakang.

Ketika imam rukuk, makmum rukuk. Ketika imam sujud, makmum sujud. Tidak boleh mendahului, dan tidak boleh sengaja tertinggal.

Ini adalah pendidikan tentang kepemimpinan dan kepatuhan.

Kita diajarkan untuk patuh kepada pemimpin selama ia berada dalam koridor kebenaran.

Namun, kepatuhan itu bukanlah kepatuhan yang mematikan akal. Jika imam keliru, makmum diperintahkan untuk mengingatkan.

Laki-laki mengucapkan tasbih, sementara perempuan menepukkan tangan.

Imam pun tidak boleh tersinggung, bahkan wajib menerima koreksi dengan lapang dada.

Di sini kita belajar dua hal penting sekaligus:

pemimpin tidak anti kritik, dan yang dipimpin memahami cara mengoreksi dengan adab.

Persaudaraan dalam Perbedaan yang Dikelola

Perhatikan betapa indahnya syariat mendidik umat tentang perbedaan.

Dalam shalat jahr, seperti Maghrib, Isya, dan Subuh, imam hanya mengeraskan bacaan Al-Fatihah dan surat. Selebihnya tetap dibaca pelan.

Perbedaan yang paling tampak hanyalah pada apakah basmalah dibaca keras atau pelan. Sementara banyak perbedaan lain justru tidak ditonjolkan.

Doa iftitah memiliki banyak riwayat. Bacaan rukuk dan sujud juga beragam. Tahiyat pun memiliki perbedaan redaksi. Namun semua itu tidak ditampakkan secara mencolok di hadapan jama’ah.

Seakan-akan syariat mengajarkan:

perbedaan itu ada, tetapi tidak perlu selalu dipertontonkan.

Kita tetap sahabat, tetap saudara, tetap satu saf—meskipun berbeda riwayat, kebiasaan, atau latar belakang mazhab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *