Religi

Allah Mendidik Kita Bersatu dalam Shalat Jama’ah

295
×

Allah Mendidik Kita Bersatu dalam Shalat Jama’ah

Sebarkan artikel ini

Oleh: Jufri

Ketua Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi,Jufri

Jika semua perbedaan ditonjolkan secara keras, shalat yang seharusnya menenangkan bisa berubah menjadi ruang saling curiga.

Syariat memberikan pelajaran yang sangat elegan:

yang pokok disatukan, yang cabang diberi ruang.

Saf yang Lurus, Hati yang Diluruskan

Sebelum shalat dimulai, imam mengingatkan, “Luruskan dan rapatkan saf.”

Di dalam saf, kita berdiri bahu bertemu bahu. Tidak ada jabatan, gelar, atau strata sosial. Semua sejajar.

Direktur berdampingan dengan buruh.

Pejabat berdiri di samping petani.

Cendekiawan bersama masyarakat biasa.

Yang membedakan hanyalah ketakwaan—dan itu bukan urusan penilaian manusia.

Di sinilah ego dilatih untuk ditundukkan. Barisan depan bukan simbol kekuasaan, melainkan kesiapan berkorban dan mendahului dalam kebaikan.

Kepemimpinan yang Memiliki Batas

Ketika imam mengucapkan salam, hubungan struktural itu pun selesai. Tidak ada lagi imam dan makmum dalam konteks kepemimpinan shalat.

Setelah itu, setiap jama’ah memiliki kebebasan: berdoa sendiri atau mengikuti doa imam.

Tidak ada paksaan.

Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Islam memiliki batas yang jelas. Ia tidak absolut, tidak tanpa akhir. Ada ruang privat dan ada ruang kolektif.

Menyembunyikan Perbedaan, Menampakkan Persaudaraan

Begitulah cara syariat mendidik umat untuk bersatu. Perbedaan tidak dihapus, tetapi dikelola.

Tidak dipertajam, tetapi ditenangkan. Tidak dijadikan alat pemecah, tetapi ditempatkan dalam ruang hikmah.

Shalat jama’ah adalah latihan harian untuk hidup dalam masyarakat yang majemuk.

Jika dalam satu masjid saja kita tidak mampu menerima perbedaan kecil, bagaimana mungkin kita mampu menghadapi perbedaan besar dalam kehidupan sosial, politik, dan budaya?

Maka setiap kali kita berdiri dalam saf, sesungguhnya kita sedang dididik:

untuk taat tanpa kehilangan nalar,

untuk memimpin tanpa anti kritik,

untuk berbeda tanpa bermusuhan,

dan untuk bersatu tanpa harus seragam dalam segala hal.

Shalat jama’ah bukan hanya ibadah vertikal kepada Allah. Ia juga madrasah horizontal tentang bagaimana manusia hidup bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *