Tiga Mentalitas dari Ibroh Badar Qubro
Dalam ceramahnya, Muh Taufik HS menyampaikan tiga pesan utama yang dikaitkan dengan pelajaran dari Perang Badar.
Pertama, Masari’atul Khairat, yakni bersegera dalam melakukan kebaikan.
Ia mengingatkan pentingnya memanfaatkan waktu dengan amal dan aktivitas yang memberikan manfaat.
Menurutnya, semangat bergegas dalam kebaikan menjadi salah satu sikap penting dalam menjalankan kehidupan dan aktivitas dakwah.
Kedua, Himmatul Aliyah, yaitu memiliki cita-cita yang tinggi.
Muh Taufik menyampaikan bahwa perjuangan dakwah membutuhkan visi yang luas dan orientasi terhadap kemaslahatan umat.
Cita-cita tersebut juga harus disertai keteguhan prinsip agar tidak mudah terpengaruh oleh kepentingan duniawi.
Ketiga, La Ya’rifu Rohah, yang dimaknai sebagai tidak mudah lelah dalam perjuangan.
Pesan tersebut dikaitkan dengan keteladanan Rasulullah SAW dan para sahabat dalam menghadapi berbagai tantangan dakwah.
Menurut Muh Taufik, semangat perjuangan perlu terus dijaga dengan kesabaran, keteguhan dan keikhlasan.
“Tempat istirahat yang sejati adalah ketika Allah SWT memberikan balasan terbaik atas amal dan perjuangan,” demikian pesan yang disampaikan dalam ceramah tersebut.
Mempererat Ukhuwah Lintas Negara
Safari dakwah ke Melaka tidak hanya menjadi forum penyampaian pesan keagamaan, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antara komunitas dakwah dari Indonesia dan Malaysia.
Pertemuan dengan tokoh dan aktivis di Melaka menjadi ruang untuk saling bertukar pengalaman mengenai aktivitas keumatan, sosial, dan dakwah di masing-masing wilayah.
Momentum Ramadan juga dimanfaatkan untuk memperkuat kepedulian sosial melalui santunan anak yatim dan kegiatan buka puasa bersama.
Melalui tema “Ibroh Badar Qubro”, safari dakwah tersebut membawa pesan tentang pentingnya menjaga keteguhan iman, bersegera dalam kebaikan, memiliki cita-cita luhur, serta terus memberikan manfaat bagi umat dan masyarakat.***












