Berita Utama

Dari Timbang Langkat ke Binjai: Kereta Api yang Membentuk Kota dan Mobilitas Masyarakat

68
×

Dari Timbang Langkat ke Binjai: Kereta Api yang Membentuk Kota dan Mobilitas Masyarakat

Sebarkan artikel ini

MEDAN I TERITORIAL24.COM – Jauh sebelum Binjai berkembang sebagai kota yang terhubung erat dengan Medan, kereta api telah lebih dulu hadir di kawasan tersebut.

Ketika jalur Medan–Timbang Langkat dibuka pada tahun 1887, kereta api menjadi bagian penting dari perubahan besar kawasan perkebunan, perdagangan, migrasi, hingga pertumbuhan perkotaan Binjai.

Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, menjelaskan bahwa keberadaan Stasiun Binjai memiliki akar sejarah yang kuat sejak era kolonial Belanda.

“Sebelum bernama Stasiun Binjai seperti sekarang, dulu namanya adalah Stasiun Timbang Langkat, sesuai dengan konsesi pembangunan jalur yang diberikan oleh Pemerintah Belanda kepada Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) pada 23 Januari 1883. Di mana sesuai konsesi tersebut, DSM diberi izin membangun jalur kereta api antara Medan, Deli Tua, dan berakhir di Stasiun Timbang Langkat dengan jarak 20,8 kilometer,” ujar Anwar di Medan.

Sampai dengan tahun 1930-an, berdasarkan arsip foto yang tersimpan di beberapa museum perkeretaapian Belanda, stasiun yang sekarang berada di Kelurahan Tanah Tinggi, Kecamatan Binjai Timur, Kota Binjai, tersebut masih bernama Stasiun Timbang Langkat. Namun, pasca kemerdekaan pada saat proses nasionalisasi DSM dilakukan, stasiun tersebut sudah berganti nama menjadi Stasiun Binjai.

“Tidak ada arsip resmi yang mencatat kapan perubahan nama Stasiun Timbang Langkat menjadi Stasiun Binjai. Kemungkinan hal itu dilakukan seiring berkembangnya kawasan Langkat Hulu, kawasan di mana stasiun ini berada ikut berkembang menjadi kota administrasi. Kereta api hadir ketika kawasan tersebut sedang tumbuh, lalu ikut mempercepat perubahan Timbang Langkat menjadi perkotaan,” tambah Anwar.

Seperti jaringan kereta api kebanyakan di Sumatera Utara pada umumnya, jalur Medan menuju Timbang Langkat atau Binjai ini dulunya dibangun untuk memperkuat angkutan perkebunan, khususnya komoditas tembakau dan lada.

Hingga akhir tahun 1919, dari Stasiun Binjai dulunya terdapat dua lintasan. Satu lintasan menuju ke Stasiun Selesai hingga Stasiun Kuala yang berada di Kabupaten Langkat, di mana jalur ini aktif hingga tahun 2002 sebagai jalur angkutan perkebunan dengan komoditi utama angkutan Crude Palm Oil (CPO) dan lateks. Sementara satu lintas lainnya membentang dari Stasiun Binjai menuju ke Stasiun Besitang, yang merupakan stasiun transit pertemuan antara jalur kereta api yang dikelola oleh DSM dan Atjeh Tram (Atjeh Staatsspoorwegen) yang berada di Aceh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *