Kota Medan

Gala Dinner APEKSI di Medan: Saat Baju Melayu Jadi Simbol, Lyodra Jadi Penutup yang Sulit Dilupakan

140
×

Gala Dinner APEKSI di Medan: Saat Baju Melayu Jadi Simbol, Lyodra Jadi Penutup yang Sulit Dilupakan

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, MEDAN – Kalau biasanya rapat nasional identik dengan pidato panjang, ruang konferensi, dan setumpuk dokumen, Medan memilih cara berbeda untuk menyambut tamunya.

Kota ini mengubah Lapangan Merdeka menjadi panggung budaya, tempat busana Melayu, tarian Nusantara, hingga suara Lyodra berpadu dalam satu malam yang meriah.

Selasa (30/6/2026) malam, ribuan orang memadati Lapangan Merdeka saat Gala Dinner menyambut Rakernas APEKSI XVIII digelar bersamaan dengan penutupan Gelar Melayu Serumpun (Gemes) IX.

Sebanyak 98 wali kota dan wakil wali kota dari berbagai daerah di Indonesia hadir mengenakan pakaian adat Melayu.

Pemandangan itu bukan sekadar soal seragam. Ada pesan yang ingin disampaikan tuan rumah.

Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengatakan busana Melayu yang dikenakan para kepala daerah bukan hanya pelengkap acara seremonial.

Menurutnya, pakaian adat tersebut merepresentasikan nilai kehormatan, kesantunan, kearifan, sekaligus tanggung jawab seorang pemimpin dalam melayani masyarakat.

“Kemajuan kota harus berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan nilai-nilai luhur,” ujar Rico.

Pernyataan itu terasa nyambung dengan momentum penutupan Gemes IX, festival budaya yang selama empat hari terakhir menjadi ruang pertemuan seni, tradisi, dan identitas Melayu.

Tahun ini, Gemes kembali masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN), membuat posisinya semakin penting dalam kalender pariwisata nasional.

Menurut Rico, Gemes bukan hanya panggung hiburan, tetapi ruang silaturahmi yang mempertemukan masyarakat serumpun melalui bahasa budaya.

Menariknya, ia juga mengaitkan Gemes dengan Rakernas APEKSI. Jika forum APEKSI menjadi ruang bertukar gagasan pembangunan antar kota, maka Gemes menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan akar budaya.

Logikanya sederhana. Kota yang maju bukan cuma punya gedung tinggi atau jalan mulus, tetapi juga mampu menjaga identitasnya.

Malam itu, simbol kebersamaan tidak berhenti di atas panggung. Rico Waas bersama Ketua TP PKK Kota Medan, Airin Rico Waas, menyerahkan cenderamata kepada para delegasi sebagai penanda eratnya persaudaraan antarkota.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *