Kota Medan

Gala Dinner APEKSI di Medan: Saat Baju Melayu Jadi Simbol, Lyodra Jadi Penutup yang Sulit Dilupakan

142
×

Gala Dinner APEKSI di Medan: Saat Baju Melayu Jadi Simbol, Lyodra Jadi Penutup yang Sulit Dilupakan

Sebarkan artikel ini

Sementara di sisi hiburan, panggung benar-benar bekerja keras memanjakan tamu. Berbagai pertunjukan seni dari daerah-daerah di Indonesia hingga negara sahabat tampil bergantian.

Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah tari kolosal Nusantara yang menyatukan beragam budaya dalam satu koreografi megah.

Sebagai klimaks, penyanyi Lyodra sukses menutup malam dengan penampilan yang membuat suasana berubah menjadi konser bersama. Para tamu, pejabat, hingga masyarakat yang hadir larut menikmati lagu demi lagu.

Namun, ada satu hal yang mungkin lebih penting daripada kemeriahan panggung.

Festival budaya ternyata juga membawa dampak ekonomi. Berdasarkan data Dinas Pariwisata Kota Medan, selama penyelenggaraan Gemes IX, transaksi pelaku UMKM mencapai lebih dari Rp300 juta setiap hari. Angka yang menunjukkan bahwa ketika budaya dikemas dengan baik, yang ikut bergerak bukan hanya sektor pariwisata, tetapi juga kantong para pedagang.

Di tengah derasnya pembangunan kota-kota besar, malam di Lapangan Merdeka menjadi pengingat bahwa identitas budaya tidak harus disimpan di museum. Ia bisa hidup, dipakai, dipentaskan, bahkan menjadi penggerak ekonomi.

Dan mungkin, itulah pesan paling menarik dari Gala Dinner APEKSI kali ini: membangun kota tidak selalu dimulai dari beton dan aspal. Kadang, ia dimulai dari panggung budaya yang membuat orang datang, menikmati, lalu pulang dengan cerita.(Akbar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *