Religi

Jangan Tertipu Air Mata: Al-Qur’an Ajarkan Muslim Cerdas Menerima Informasi

120
×

Jangan Tertipu Air Mata: Al-Qur’an Ajarkan Muslim Cerdas Menerima Informasi

Sebarkan artikel ini

‎Oleh: Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A. ‎

Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A., berpesan agar umat Islam cerdas menerima informasi dan mengedepankan tabayyun(Ist)

‎Tidak berhenti di situ. Mereka juga membawa baju Yusuf yang dilumuri darah sebagai penguat cerita.

‎Jika diperhatikan, kebohongan tersebut tidak disampaikan secara asal-asalan. Ada suasana, ada emosi, ada narasi, dan ada sesuatu yang ditampilkan sebagai bukti.

‎Inilah salah satu pelajaran penting dari kisah tersebut: kebohongan bisa dikemas sedemikian rupa sehingga tampak seperti kebenaran.

‎Karena itu, seorang Muslim tidak boleh menilai kebenaran hanya dari cara sebuah cerita disampaikan.

‎Air mata bukan sertifikat kebenaran.

‎Jangan Biarkan Emosi Mengalahkan Akal

‎Tangisan dapat menggugah perasaan. Kesedihan dapat membuat seseorang lebih mudah bersimpati.

‎Namun, perasaan tidak boleh menggantikan pemeriksaan terhadap fakta.

‎Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan informasi yang dikemas untuk membangkitkan kemarahan, rasa kasihan, ketakutan, atau kebencian.

‎Ketika emosi sudah tersulut, seseorang cenderung lebih cepat percaya dan lebih mudah membagikan informasi.

‎Karena itu, semakin sebuah informasi mampu mengguncang emosi kita, semakin penting untuk berhenti sejenak dan bertanya:

‎Benarkah informasi ini? Dari mana sumbernya? Apa konteks lengkapnya?

‎Itulah bagian dari sikap seorang Muslim yang cerdas dalam menerima informasi.

‎Ketakutan Bisa Dijadikan Bahan Manipulasi

‎Ada bagian menarik dalam kisah tersebut.

‎Sebelumnya, Ya’qub ‘Alaihis Salam memang pernah menyampaikan kekhawatirannya tentang keselamatan Yusuf dari ancaman serigala.

‎Kekhawatiran itu kemudian muncul dalam cerita yang disampaikan saudara-saudara Yusuf.

‎Pelajarannya sangat relevan: seseorang yang ingin memengaruhi kita dapat memanfaatkan sesuatu yang memang sudah kita takutkan.

‎Karena itu, ketika sebuah informasi terasa sangat sesuai dengan kekhawatiran atau prasangka kita, jangan langsung menganggapnya benar.

‎Justru pada saat itulah kita harus lebih berhati-hati.

‎Sebab informasi yang sesuai dengan apa yang ingin kita dengar sering kali lebih mudah dipercaya daripada informasi yang benar-benar objektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *