Religi

Jangan Tertipu Air Mata: Al-Qur’an Ajarkan Muslim Cerdas Menerima Informasi

122
×

Jangan Tertipu Air Mata: Al-Qur’an Ajarkan Muslim Cerdas Menerima Informasi

Sebarkan artikel ini

‎Oleh: Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A. ‎

Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A., berpesan agar umat Islam cerdas menerima informasi dan mengedepankan tabayyun(Ist)

‎Sabar bukan berarti membiarkan kebatilan.

‎Sabar adalah kemampuan menjaga diri agar tidak membalas keburukan dengan keburukan dan tidak mengambil keputusan ketika emosi sedang menguasai hati.

‎Seorang Muslim boleh tegas memperjuangkan kebenaran. Namun, ketegasan harus tetap berjalan bersama akhlak.

‎Allah Tidak Pernah Tertipu oleh Kebohongan

‎Ya’qub kemudian berkata:

‎«وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ»

‎“Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.”

‎Inilah kekuatan iman.

‎Manusia mungkin tertipu. Publik mungkin digiring. Cerita mungkin direkayasa. Bukti mungkin dipalsukan.

‎Namun, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

‎Allah mengetahui siapa yang berkata benar dan siapa yang menyembunyikan kebohongan.

‎Karena itu, seorang Muslim tidak cukup hanya cerdas membaca informasi. Ia juga harus memiliki hati yang takut kepada Allah ketika berbicara dan menyebarkan sesuatu.

‎Menjadi Muslim yang Cerdas di Era Informasi

‎Surah Yusuf ayat 16–18 memberikan pelajaran yang sangat relevan dengan kehidupan digital.

‎Saat ini, informasi dapat menyebar jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memeriksanya.

‎Sebuah potongan video bisa mengubah persepsi.

‎Sebuah foto tanpa konteks bisa menimbulkan prasangka.

‎Sebuah judul provokatif bisa membuat orang marah sebelum membaca isinya.

‎Sebuah kabar yang belum terverifikasi bisa berubah menjadi fitnah ketika disebarkan berulang-ulang.

‎Karena itu, menjadi Muslim yang cerdas dalam menerima informasi bukan sekadar mampu membaca, tetapi juga mampu menahan diri.

‎Tahan jari sebelum menekan tombol bagikan.

‎Periksa sumbernya.

‎Cari konteksnya.

‎Dengarkan penjelasan dari pihak terkait.

‎Dan jika kebenarannya belum jelas, lebih baik diam daripada menjadi bagian dari penyebaran fitnah.

‎Sebab satu klik hanya membutuhkan waktu satu detik, tetapi dampak sebuah informasi palsu bisa menghancurkan kehormatan seseorang dalam waktu yang jauh lebih panjang.

‎Jangan Biarkan Air Mata Mengalahkan Kebenaran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *