Kisah Nabi Yusuf mengajarkan bahwa kebohongan tidak selalu tampil dalam bentuk yang mudah dikenali.
Ia bisa datang dengan air mata.
Ia bisa dibungkus dengan cerita yang menyentuh.
Ia bisa dilengkapi dengan “bukti”.
Ia bahkan bisa dibuat sedemikian rupa agar orang lain merasa bersalah jika tidak mempercayainya.
Namun, seorang Muslim tidak boleh berhenti pada kemasan.
Cari kebenaran. Lakukan tabayyun. Gunakan akal sehat. Jaga lisan. Jaga jari.
Jangan sampai kita menjadi orang yang membuat kebohongan.
Dan jangan pula menjadi orang yang membantu kebohongan menyebar.
Sebab ketika sebuah berita sampai kepada kita, ada dua pilihan: menjadi penyaring kebenaran atau menjadi mata rantai penyebaran fitnah.
Maka jadilah Muslim yang cerdas menerima informasi: tidak mudah terharu hingga kehilangan nalar, tidak mudah marah hingga kehilangan kendali, dan tidak mudah percaya hingga lupa melakukan tabayyun.
Kebenaran mungkin tidak selalu datang dengan air mata. Kebohongan pun bisa datang dengan wajah yang sangat meyakinkan. Tetapi bagi Allah, tidak ada satu pun yang samar.
Ketika kita tidak mampu melihat seluruh kenyataan, tetaplah berpegang pada petunjuk-Nya:
«فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ»
“Maka kesabaran yang baik itulah pilihanku, dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya.”***












