Religi

Jangan Tertipu Air Mata: Al-Qur’an Ajarkan Muslim Cerdas Menerima Informasi

121
×

Jangan Tertipu Air Mata: Al-Qur’an Ajarkan Muslim Cerdas Menerima Informasi

Sebarkan artikel ini

‎Oleh: Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A. ‎

Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A., berpesan agar umat Islam cerdas menerima informasi dan mengedepankan tabayyun(Ist)

‎“Bukti” Tidak Selalu Berarti Kebenaran

‎Al-Qur’an menyebut bahwa saudara-saudara Yusuf membawa baju Yusuf dengan:

‎«بِدَمٍ كَذِبٍ»

‎‎“Dengan darah yang dusta.”

‎Ungkapan ini mengandung pelajaran yang sangat dalam.

‎Ada sesuatu yang tampak sebagai bukti, tetapi ternyata tidak menggambarkan kejadian yang sebenarnya.

‎Ya’qub ‘Alaihis Salam tidak langsung menerima bukti tersebut. Beliau melihat ada sesuatu yang janggal dalam cerita yang disampaikan.

‎Di zaman sekarang, bentuk “bukti” tentu berbeda.

‎Foto, video, tangkapan layar, rekaman suara, dokumen, maupun potongan percakapan dapat terlihat sangat meyakinkan.

‎Namun, semuanya tetap membutuhkan konteks dan verifikasi.

‎Viral bukan berarti valid. Ramai bukan berarti benar. Sesuatu yang terlihat nyata belum tentu menjelaskan kenyataan secara utuh.

‎Ya’qub Tidak Mudah Digiring oleh Narasi

‎Saudara-saudara Yusuf bahkan berkata:

‎«وَمَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ»

‎‎“Dan engkau sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami benar.”

‎Kalimat tersebut menjadi bagian dari upaya mereka meyakinkan sang ayah.

‎Pelajarannya bukan berarti setiap orang yang memberikan penjelasan panjang atau bersikap defensif pasti berdusta. Namun, seorang Muslim perlu berhati-hati terhadap informasi yang berusaha menggiring kesimpulan sebelum fakta diperiksa.

‎Islam tidak mengajarkan umatnya untuk mudah curiga.

‎Tetapi Islam juga tidak mengajarkan umatnya untuk mudah percaya.

‎Di antara keduanya ada prinsip yang sangat penting:‎Tabayyun.

‎Periksa sebelum percaya. Teliti sebelum menyebarkan. Dengarkan lebih dari satu sisi sebelum mengambil kesimpulan.

‎Sabar yang Indah Ketika Menghadapi Kebohongan

‎Yang tidak kalah penting dari kisah ini adalah respons Ya’qub ‘Alaihis Salam.

‎Beliau berkata:

‎«بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا»

‎‎“Bahkan dirimu sendirilah yang memandang baik suatu perbuatan.”

‎Namun, beliau tidak membiarkan kemarahan menguasai dirinya.

‎Beliau memilih:

     ‎«فَصَبْرٌ جَمِيلٌ»

‎“Maka kesabaran yang baik itulah pilihanku.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *