Religi

Pelajaran dari Surah Thaha Ayat 115: Ketika Lupa Menjadi Ujian, Tekad Menjadi Jalan Menuju Istiqamah

170
×

Pelajaran dari Surah Thaha Ayat 115: Ketika Lupa Menjadi Ujian, Tekad Menjadi Jalan Menuju Istiqamah

Sebarkan artikel ini

Oleh: Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A.

Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A. menjelaskan kandungan Surah Thaha ayat 115 yang mengingatkan bahwa manusia memiliki sifat lupa, sehingga membutuhkan tekad yang kuat, muhasabah, dan pertolongan Allah SWT untuk meraih istiqamah(Istimewa)

Inilah pentingnya membangun ‘azm. Tekad tidak lahir dalam sekejap, tetapi dibentuk melalui latihan yang terus-menerus.

Istiqamah bukanlah tentang melakukan amalan besar sesekali, melainkan menjaga amal-amal kecil yang dilakukan secara konsisten karena Allah SWT.

Kelalaian Menjadi Pintu Masuk Godaan Setan

Setan tidak selalu mengajak manusia melakukan dosa besar secara langsung. Sering kali ia memulai dari hal-hal yang tampak sepele.

Menunda salat beberapa menit, meninggalkan zikir karena sibuk, atau merasa aman dari godaan maksiat.

Kelalaian yang terus dibiarkan akan mengeras menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan lahirlah dosa, dan dari dosa yang tidak disesali, hati dapat menjadi keras.

Karena itu, menjaga hati agar selalu hidup dengan zikir, membaca Al-Qur’an, dan menghadiri majelis ilmu merupakan benteng terbaik menghadapi tipu daya setan.

Amanah Harus Dijaga dengan Ingatan dan Tekad

Allah menyebut bahwa Nabi Adam telah menerima ‘ahd atau perjanjian. Setiap muslim pun memikul amanah dari Allah SWT.

Amanah untuk menegakkan salat, berlaku jujur, menjaga lisan, mencari nafkah yang halal, mendidik keluarga, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

Amanah tidak akan terjaga hanya dengan niat baik. Ia membutuhkan hati yang selalu mengingat Allah dan tekad yang kuat untuk tetap berada di jalan kebenaran meskipun menghadapi berbagai ujian.

Belajar Bangkit, Bukan Larut dalam Kesalahan

Kisah Nabi Adam juga mengajarkan bahwa manusia bukanlah makhluk yang tidak pernah salah. Yang terpenting adalah bagaimana menyikapi kesalahan tersebut.

Ketika tergelincir, seorang mukmin tidak boleh berputus asa. Ia harus segera bertaubat, memperbaiki amal, dan memperkuat tekad agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Putus asa bukan sifat orang beriman, karena pintu rahmat Allah selalu terbuka bagi hamba yang ingin kembali kepada-Nya.

Di era modern, tantangan menjaga istiqamah semakin besar. Kesibukan pekerjaan, derasnya arus informasi, dan godaan dunia sering kali membuat manusia lalai terhadap tujuan hidupnya. Karena itu, muhasabah menjadi kebutuhan setiap muslim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *