Pada 2025, jumlah tersebut meningkat signifikan dengan banjir berdampak pada 22.744 KK atau 89.723 jiwa, sedangkan puting beliung memengaruhi 1.071 KK atau 3.781 jiwa.
“Di balik angka-angka tersebut ada masyarakat yang kehilangan rasa aman, terganggunya pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, hingga mata pencaharian. Karena itu, kesiapsiagaan menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda,” kata Suwanto.
Ia juga mengakui BPBD Sergai masih menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana jika dibandingkan dengan luas wilayah, jumlah penduduk, panjang garis pantai, serta potensi terjadinya bencana di beberapa lokasi secara bersamaan.
Sementara itu, Anggota Komisi VIII DPR RI Ashari Tambunan menegaskan paradigma penanggulangan bencana harus bergeser dari penanganan pascabencana menuju penguatan upaya pencegahan dan mitigasi.
“Preventif jauh lebih penting daripada hanya menangani setelah bencana terjadi. Yang harus kita pikirkan bersama adalah bagaimana meminimalisasi kerugian melalui langkah-langkah pencegahan yang tepat,” ujar mantan Bupati Deli Serdang tersebut.
Ashari mencontohkan penanganan banjir yang seharusnya dilakukan melalui normalisasi sungai dan penguatan infrastruktur pengendali banjir sebelum musim hujan tiba. Menurutnya, pemerintah daerah juga perlu membangun komunikasi yang intensif dengan kementerian teknis agar berbagai usulan penanganan dapat segera direalisasikan.
Ia berharap kegiatan sosialisasi tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi mampu menghasilkan pemetaan persoalan, memperkuat koordinasi antarlembaga, serta melahirkan solusi nyata yang dapat diterapkan dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana.(Akbar)












