Di sana, Gischa mencoba berbagai produk yang diperkenalkan langsung oleh perwakilan dari Pulau Pinang. Mulai dari teh khas Malaysia hingga camilan kuaci tanpa kulit yang menurutnya unik.
“Yang paling menarik menurut saya adalah produknya unik. Ada camilan seperti kuaci yang sudah tanpa kulit sehingga lebih praktis dimakan. Saya juga sempat mencicipi teh khas Malaysia yang rasanya enak. Petugasnya menjelaskan manfaat produknya dengan sangat ramah sehingga membuat saya tertarik,” ungkapnya.
Tak lengkap rasanya datang ke PRSU tanpa berburu kuliner. Dari satu stan ke stan lainnya, Gischa mencicipi berbagai menu yang ramai dibicarakan pengunjung.
Dimsum, bakso bakar, ayam Al-Masri, hingga nasi briyani masuk dalam daftar kuliner favoritnya. Menurutnya, keragaman makanan menjadi salah satu alasan mengapa pengunjung betah berlama-lama berada di kawasan PRSU.
Menjelang malam, ribuan lampu mulai menerangi arena. Musik dari panggung utama menggema, anak-anak masih bermain, dan antrean di stan kuliner belum juga surut.
Suasana itu membuat Gischa merasa PRSU bukan hanya tempat hiburan, tetapi ruang berkumpul bagi semua kalangan.
Di akhir kunjungannya, ia memberikan penilaian yang tidak tanggung-tanggung.
“Kalau disuruh memberi nilai, saya kasih 10 dari 10. PRSU menurut saya keren dan sangat layak dikunjungi. Semoga acara seperti ini terus diselenggarakan karena menjadi tempat masyarakat menikmati hiburan sekaligus mengenal kekayaan daerah yang kita miliki,” ujarnya.
Di usia emas penyelenggaraannya yang ke-50, PRSU masih berhasil menghadirkan pengalaman yang sulit tergantikan.
Bagi pengunjung seperti Gischa, satu hari di kawasan PRSU bukan hanya soal menikmati konser atau mencicipi makanan, melainkan perjalanan singkat mengenal budaya, kuliner, dan keberagaman Sumatera Utara dalam satu langkah.(Akbar)












