Religi

Rico Waas Tarawih Bersama Warga Medan Selayang, Ajak Perkuat Ukhuwah di Malam Kelima Ramadhan

179
×

Rico Waas Tarawih Bersama Warga Medan Selayang, Ajak Perkuat Ukhuwah di Malam Kelima Ramadhan

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM – Langit Medan belum sepenuhnya larut ketika langkah-langkah jamaah mulai memenuhi Pendopo Rumah Dinas Wali Kota, Minggu malam, 22 Februari 2026.

Di malam kelima Ramadhan, suasana khidmat menyelimuti halaman dan ruang utama pendopo.

Di barisan depan, Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, tampak bersiap menunaikan Salat Isya berjamaah bersama jajaran Kecamatan Medan Selayang, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga ibu-ibu pengajian.

Malam itu bukan sekadar agenda seremonial. Tarawih berjamaah yang digelar Pemerintah Kota Medan saban Ramadhan telah menjadi ruang temu antara pemerintah dan warga—ruang yang menanggalkan sekat formalitas, menggantikannya dengan saf yang rapat dan doa-doa yang melangit.

Salat Isya dipimpin oleh Ustad H. Ahmad Muhajir, S.Pd.I., sebelum jamaah beranjak ke rangkaian Salat Tarawih.

Di antara lantunan ayat suci, terasa ada pesan yang lebih besar dari sekadar rutinitas tahunan: kehadiran pemimpin di tengah warganya, dalam suasana ibadah, adalah simbol kebersamaan yang tak bisa diwakilkan.

Program Tarawih bersama ini memang menjadi agenda rutin Pemko Medan setiap Ramadhan. Namun, di tengah dinamika kota yang terus bergerak, momen seperti ini menghadirkan jeda—menguatkan kembali simpul-simpul ukhuwah yang mungkin sempat mengendur oleh kesibukan dan perbedaan kepentingan.

Usai Tarawih, jamaah tak langsung beranjak. Tausiah disampaikan oleh Al Ustad H. Komaruddin Sagala, Ketua Majelis Ulama Indonesia Kecamatan Medan Selayang. Dengan suara tenang namun tegas, ia mengingatkan tentang golongan umat yang dirindukan Allah SWT di bulan suci.

Pertama, kata Komaruddin, adalah mereka yang akrab dengan Al-Qur’an selama Ramadhan. “Banyak sekali manfaat bagi umat Muslim yang rutin membaca Al-Qur’an di bulan suci ini,” ujarnya. Ramadhan, menurutnya, bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum memperkuat relasi spiritual melalui kalam Ilahi.

Golongan berikutnya adalah mereka yang mampu menjaga lisan. Di bulan yang dimuliakan, menjaga tutur kata—tidak menyakiti, tidak memfitnah, tidak mengumbar amarah—menjadi ukuran kualitas puasa seseorang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *