Pesan itu terasa relevan, bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi kehidupan sosial kota yang majemuk seperti Medan.
Malam pun kian larut. Jamaah perlahan meninggalkan pendopo dengan wajah yang tampak lebih teduh.
Bagi Medan, Ramadhan selalu menghadirkan denyut yang berbeda—lebih hening, namun justru lebih bermakna.
Dan di saf-saf Tarawih itulah, antara doa dan nasihat, terbangun kembali jembatan kepercayaan antara pemimpin dan rakyatnya.(Anggi)












