Kisah aneh, absurd, sekaligus menyeramkan dialami seorang pedagang air kelapa muda dan gorengan di sebuah sudut kota Kuala Lumpur, Malaysia.
Sebut saja namanya Ibu Lobot, pedagang sederhana yang sudah bertahun-tahun menggantungkan hidup dari lapak kecilnya. Biasanya, setiap sore lapaknya ramai diserbu pelanggan.
Kelapa muda segar ludes, gorengan habis dalam sekejap. Namun, dua pekan terakhir, keadaan mendadak berubah drastis.
“Anehnya, tak ada satu pun orang singgah. Seolah-olah lapak saya tak terlihat,” keluh Ibu Lobot.
Padahal, lokasi lapaknya tetap sama. Dagangannya sama. Namun tetap saja, dagangannya seperti tidak pernah dilirik. Omzet anjlok, dagangan tersisa, dan hawa aneh mulai terasa.
Lapak Tertutup Tanah Kuburan
Karena penasaran, Ibu Lobot akhirnya mencari informasi sampai ke kampung halamannya . Ada yang berbisik pelan, “Mungkin ada yang iri, Bu… mungkin ada yang pakai mainan.” Istilah mainan di sini bukan mainan anak-anak, melainkan praktik gaib yang sering dipakai untuk menjatuhkan usaha orang lain.
Merasa semakin resah, Ibu Lobot menghubungi seorang praktisi supranatural bernama Akbar di Medan, Minggu 14 September 2025. Akbar dikenal sebagai “mata batin” yang bisa menembus jarak jauh.
Lewat penerawangan, Akbar melihat sesuatu yang mengejutkan.
“Lapak ibu bukan ditutup kain atau kayu. Tapi ditutup tanah kuburan. Itu bukan tanah biasa, melainkan tanah dari liang lahat orang yang baru dikuburkan,” ungkapnya.
Tanah kuburan diyakini memiliki energi kematian yang mampu membuat suasana lapak menjadi angker, pengap, dan tak terlihat oleh mata manusia biasa. Singkatnya, meski ada orang lewat, lapak seperti “lenyap dari pandangan”.
Ritual Pembersihan
Mendengar kondisi itu, Akbar segera melakukan ritual pembersihan jarak jauh. Ia membaca doa-doa tertentu sambil berzikir. Menurutnya, tanah kuburan itu sudah dinetralisir dan energi jahatnya diputus.
“Alhamdulillah, sekarang sudah bersih. Tapi ingat, jangan lalai. Orang yang iri hati bisa mengulang perbuatannya. Banyaklah berdoa, minta perlindungan, dan jangan pernah takut,” pesan Akbar.












