Misteritorial

Ayu Srivina Penghuni Pusara Ronggeng Yang Selalu Dikenang

422
×

Ayu Srivina Penghuni Pusara Ronggeng Yang Selalu Dikenang

Sebarkan artikel ini

MISTERITORIAL – Malam belum benar-benar jatuh ketika suara kendang kecil mulai berdetak di sudut langit Batavia, tahun 1896.

Di bawah cahaya lampu minyak dan harum dupa dari panggung kayu sederhana, muncullah sesosok gadis muda dengan gerak langkah yang nyaris tanpa suara, seperti bayangan yang menari dalam cahaya.

Dialah Ayu Srivina, anak gadis dari tanah perbukitan di Desa Kertanegara, Purbalingga, yang ditakdirkan menjadi primadona panggung sebelum akhirnya menjadi hantu sejarah.

Ia belum genap 16 tahun ketika meninggalkan desanya. Dilepas oleh ibunya, Mbok Titin, dengan linangan air mata dan sebongkah harap: bahwa dunia akan mengenali anak perempuan ini bukan sebagai penjual hasil kebun, melainkan sebagai seorang penari besar.

Ayu kecil memang sudah berbeda. Tangannya lentik, tatapannya tajam, namun menyimpan kelembutan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata.

Ia direkrut oleh seorang tokoh ronggeng ternama dari Batavia, Pradono Prakoso, saat sedang mementaskan tari di perayaan panen desa.

Pradono melihat potensi yang tak bisa dia abaikan. “Anak ini,” katanya waktu itu, “kelak akan menggetarkan ruang dengan geraknya.”

Dan benar. Di bawah asuhan Pradono, Ayu menjelma menjadi Srivina, nama panggung yang ia pilih sendiri, gabungan dari sri (keanggunan) dan vina, alat musik India yang ia kagumi karena suaranya menyerupai rintihan hati. Ayu Srivina menjadi bintang.

Gerak kakinya pelan, gemulai, namun penuh daya. Ketika ia menari, waktu seperti ikut berhenti. Setiap putaran selendang di tangannya bukan hanya estetika; ia membawa kisah, membawa pesan, membawa cinta yang tak bisa diucap.

Namun hidupnya berubah drastis saat Tuan Lermen Wernsdeskofp, pemilik perkebunan besar di Tanah Deli, datang ke Batavia dan menyaksikan penampilannya.

Sang tuan besar itu langsung meminta Pradono untuk mengirim kelompok Ronggeng Ningsih Ayu ke Sumatera Timur, sebagai hiburan bagi para tamu kebun dan bangsawan kolonial.

Dan dengan kapal laut, Ayu Srivina bersama delapan penari lainnya menyeberangi Selat Malaka, menuju panggung baru—tanah yang asing, keras, dan kelak menjadi liang abadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *