Misteritorial

Misteri Bayangan di Balik Bambu Tua

273
×

Misteri Bayangan di Balik Bambu Tua

Sebarkan artikel ini

Jangan pernah meremehkan pohon bambu tua atau sebatang kelapa yang menjulang sendirian di pinggir jalan sepi.

Terlebih jika batangnya miring, daunnya jarang bergerak, dan tanah di sekitarnya tetap lembap meski kemarau panjang. Bagi masyarakat tua, tanda-tanda itu bukan sekadar kebetulan.

Di sanalah, dipercaya, Gunduruwo biasa bersemayam—mengintai manusia lengah yang melintas sendirian.

Gunduruwo bukan makhluk halus biasa. Ia dikenal sebagai bangsa jin bertubuh besar, berbulu kasar, berkulit gelap legam, dengan wajah yang sulit digambarkan tanpa menimbulkan rasa ngeri.

Kehadirannya hampir selalu diawali bau busuk menyengat, seperti bangkai lama yang terendam lumpur. Bau itulah isyarat bahaya, meski sering kali diabaikan oleh mereka yang tak peka.

Menurut kisah para pinisepuh, Gunduruwo masih satu rumpun dengan jin qorin. Namun ia adalah pembangkang.

Ia memilih jalan gelap—mendalami ilmu sihir, santet, dan berbagai gangguan gaib untuk mencelakai manusia. Tidak ada tujuan mulia. Hanya kepuasan melihat rasa takut yang merekah di dada korbannya.

Makhluk ini dikenal sangat menyukai manusia yang berjalan sendirian. Pengalaman itu pula yang diungkapkan Pak Efendi, seorang pria baya yang tinggal di Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai. Kepada tim Misteritorial, ia menuturkan peristiwa yang tak pernah bisa ia lupakan.

Suatu petang, tepat saat azan Maghrib berkumandang, Pak Efendi melintasi sebuah tikungan sungai yang diapit rimbunan bambu tua. Jalan itu memang dikenal angker oleh warga sekitar.

Saat sepeda motornya melaju pelan, tiba-tiba helm yang dikenakannya digetok keras—seolah dipukul dengan tangan besar. Tidak ada siapa-siapa. Jalan sunyi. Namun ia merasakan hawa berat menekan dadanya.

Meski demikian, Pak Efendi memilih tidak berhenti dan tidak menoleh. Dengan membaca zikir dalam hati, ia terus melaju hingga tiba di rumahnya yang berjarak sekitar 500 meter dari rimbun bambu tersebut. “Kalau berhenti, entah apa yang terjadi,” ujarnya lirih.

Pengalaman Pak Efendi bukan satu-satunya. Seperti yang lazim diceritakan, korban Gunduruwo beragam: pengendara motor yang pulang larut, pejalan kaki yang tergesa-gesa, atau sopir yang menahan kantuk. Saat senja berganti malam dan jalan mulai sunyi, Gunduruwo mulai “bermain”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *