Misteritorial

Misteri Rumah Kosong di Jalan Gaharu: Jejak Kolonial dan Sosok Genduruwo yang Tak Pernah Pergi

122
×

Misteri Rumah Kosong di Jalan Gaharu: Jejak Kolonial dan Sosok Genduruwo yang Tak Pernah Pergi

Sebarkan artikel ini

Di sebuah sudut sunyi di kawasan Jalan Gaharu, Kota Medan berdiri sebuah rumah tua yang seakan membeku dalam waktu. Bangunan peninggalan era kolonial itu tampak rapuh dimakan usia—dindingnya mengelupas, jendela-jendelanya lapuk, dan suasana di sekitarnya terasa ganjil, seolah menyimpan cerita yang tak ingin diungkap.

 

Rumah itu merupakan peninggalan Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), perusahaan kereta api milik Belanda yang membangun berbagai infrastruktur di Sumatera pada akhir abad ke-19.

Sejak lama tak berpenghuni, bangunan ini justru “hidup” dengan cara yang sulit dijelaskan nalar.

Cerita-cerita aneh tentang rumah itu bukan sekadar kabar angin.

 

Herman, seorang pria paruh baya yang tinggal tepat di seberang rumah tersebut, mengaku sering mengalami kejadian di luar logika.

 

“Jangankan malam, pada siang hari Sering kali malam-malam saya dengar suara orang mencuci pakaian, bunyi piring seperti dicuci, bahkan seperti ada aktivitas keluarga di dalam rumah itu,” ujarnya pelan, dengan sorot mata yang seolah mengingat sesuatu yang tak ingin ia alami lagi.

 

Padahal, semua orang tahu—rumah itu kosong. Tak ada listrik. Tak ada penghuni. Namun suara-suara itu terus muncul, terutama saat malam mulai turun dan suasana menjadi sunyi.

 

Rasa penasaran akhirnya membawa seorang praktisi supranatural, Bang Akbar, untuk mencoba menelusuri misteri yang menyelimuti rumah tersebut. Dengan metode yang ia sebut sebagai “kontak batin”, ia berusaha berkomunikasi dengan entitas yang diduga menghuni bangunan tua itu.

 

Hasilnya mengejutkan.

 

Menurut Bang Akbar, sosok yang paling dominan di lokasi tersebut adalah makhluk yang dikenal dalam mitologi Jawa sebagai Genduruwo—berperawakan besar, berbulu kasar, dan berwarna gelap pekat.

 

“Dia bukan penghuni baru. Bahkan sebelum rumah itu dibangun, dia sudah ada di sana,” ungkap Akbar.

 

Konon, sebelum berdiri bangunan kolonial tersebut, lokasi itu merupakan tempat tumbuhnya pohon asam jawa besar yang rindang dan sejuk—tempat yang diyakini menjadi “rumah” awal sang makhluk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *