Misteritorial

Ayu Srivina Primadona Ronggeng Asal Desa Kertanegara, Jawa Tengah

399
×

Ayu Srivina Primadona Ronggeng Asal Desa Kertanegara, Jawa Tengah

Sebarkan artikel ini

MISTERITORIAL – Angin malam menyapu pelan dedaunan kering yang gugur di antara batang-batang karet tua di kebun rambung Tanah Raja.

Dedaunan itu berdesir seperti bisikan—lirih, mengendap, membawa kabar yang sudah terlalu lama dikubur dalam diam.

Langit di atas Serdang Bedagai malam itu tak menyisakan cahaya. Tak ada bintang. Tak ada bulan. Seolah langit pun tak sanggup menyaksikan jejak luka yang tertinggal di tanah ini sejak seratus tahun yang lalu.

Di tanah yang sekarang ditumbuhi pohon kelapa sawit rapat dan gelap itu, sembilan nyawa muda dari kelompok Ronggeng Ningsih Ayu meregang dalam senyap.

Malam yang seharusnya penuh tawa usai pentas di pesta perkawinan justru menjadi malam terakhir mereka menginjak bumi. Mereka bukan hanya direnggut nyawanya—mereka dilenyapkan, dilumatkan, disisihkan dari ingatan sejarah.

Adalah Ayu Srivina, gadis berparas lembut dari Desa Kertanegara, Jawa Tengah, yang memimpin rombongan itu.

Dialah bintang malam dalam setiap pertunjukan. Lentik matanya menyimpan cerita dari tanah kelahiran, dari masa remajanya yang dihabiskan di panggung-panggung kecil di Batavia, sejak direkrut oleh Pradono Prakoso—seorang maestro ronggeng yang masyhur di tanah Jawa.

Kala itu, Ayu masih 16 tahun. Umurnya baru mekar, seperti melati awal musim. Tapi hidup menuntutnya tumbuh lebih cepat. Setelah menimba tari di Batavia, bersama kelompoknya ia dikontrak oleh Tuan Lermen Wernsdeskofp, pengusaha perkebunan asal Belanda yang sedang membangun imperium tembakau dan karet di Tanah Deli.

Mereka diangkut dengan kapal laut, tiba di Medan yang saat itu gemerlap oleh bisnis dan kolonialisme, tapi juga menyimpan luka dan ketimpangan yang tak terucap.

Selama enam tahun, Ayu dan delapan rekannya menghibur tuan-tuan kebun, para mandor, hingga para buruh dari berbagai daerah.

Mereka menari bukan hanya untuk menghibur, tetapi juga bertahan. Mereka menyulam hidup di sela denting gendang dan gemulai gerak tubuh—menawar kesepian di tanah yang bukan milik mereka.

Namun malam itu, kebun rambung berubah menjadi panggung terakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *