Pak Samin, sais tua yang biasa membawa mereka pulang selepas pentas, mengantar mereka untuk terakhir kalinya.
Andong tua yang mereka naiki dihentikan di tengah kegelapan oleh segerombolan begal bertato ular. Klewang terangkat. Parang karatan terhunus. Mata mereka merah menyala, tak ada ampun, tak ada amarah. Hanya nafsu.
Satu per satu ditarik turun. Di tengah gelap pekat dan bau getah karet, mereka diperkosa.
Lalu dibunuh. Selendang sutra yang biasa mereka kenakan untuk menari, berubah menjadi tali pembunuh.
Ayu Srivina menyaksikan satu per satu temannya tumbang, sebelum akhirnya lehernya sendiri dicekik—namun tak semua jiwa benar-benar pergi.
Seratus tahun kemudian, di tempat yang sama, seorang pria muda bernama Akbar—seorang praktisi spiritual—datang.
Ia mendengar kabar tentang pusara tanpa nama di tengah kebun sawit. Di malam sunyi, ia duduk bersila di antara akar, memejamkan mata. Dan dari tanah itu, suara lirih muncul.
“Aku… Ayu Srivina.”
Bayangannya muncul samar. Berbaju kebaya lusuh. Rambut disanggul setengah. Wajahnya tenang, tapi menyimpan rindu yang tak pernah tersampaikan.
Ayu mengisahkan kepedihannya, juga kisah ibunya, Mbok Titin, yang tak pernah berhenti mencari kabar hingga akhir hayatnya.
“Ibu mencariku selama dua puluh tahun,” suara Ayu nyaris seperti desah angin, “Ia berjalan ke Tanah Deli. Ia bertanya kepada para mandor, para buruh, siapa pun yang pernah mendengar tentang penari dari Kertanegara. Tapi semua jejakku telah dihapus malam itu.”
Tangis tak terlihat menggema di tengah kebun sawit.
Ayu tak menuntut balas. Ia hanya ingin dikenang. Ia ingin ada yang menceritakan kisahnya. Bahwa mereka pernah ada. Pernah menari. Pernah mencintai hidup—sebelum dihancurkan oleh kebiadaban yang tak pernah diadili.
Malam itu, di bawah langit gelap Tanah Raja, Akbar berjanji dalam hati. Ia akan menghidupkan kembali nama-nama itu dalam catatan sejarah. Ronggeng Ningsih Ayu bukan sekadar rombongan tari. Mereka adalah nyawa-nyawa yang direnggut, yang layak mendapat ruang dalam ingatan.












