Ketika pembangunan dilakukan oleh DSM pada akhir 1800-an, pohon itu ditebang. Namun, sesuatu yang tak kasat mata tetap bertahan.
Lebih mengejutkan lagi, menurut hasil komunikasi tersebut, para “penghuni” tak kasat mata itu tidak memiliki niat jahat.
“Mereka tidak ingin menakut-nakuti. Suara-suara yang terdengar itu hanyalah aktivitas mereka, seperti manusia menjalani kehidupan sehari-hari,” jelas Akbar.
Namun bagi manusia, suara aktivitas di rumah kosong tetaplah menghadirkan rasa takut yang sulit dijelaskan.
Hingga kini, rumah tua di Jalan Gaharu itu tetap berdiri—sunyi di siang hari, namun penuh “kehidupan” di malam hari. Tak ada yang berani tinggal, tak banyak pula yang berani mendekat terlalu lama.
Di balik dinding rapuhnya, tersimpan kisah tentang masa lalu, tentang sesuatu yang terus bertahan… bahkan ketika manusia telah lama pergi.(Akbar)












