Misteritorial

Ayu Srivina Penghuni Pusara Ronggeng Yang Selalu Dikenang

428
×

Ayu Srivina Penghuni Pusara Ronggeng Yang Selalu Dikenang

Sebarkan artikel ini

Di Tanah Deli, Ayu bukan hanya penari. Ia menjadi simbol eksotisme bagi para penjajah, dan hiburan yang dinanti-nanti oleh para buruh yang hidup dalam tekanan.

Namun Ayu tahu, setiap senyum yang ia berikan dalam tarian bukan sekadar bagian dari pertunjukan—itu cara ia bertahan.

Dalam keheningan, ia merindukan ibunya. Ia menulis surat-surat yang tak pernah sampai, menyanyikan tembang Jawa di balik pondok bambu saat semua tertidur. Ia tetap Ayu dari Kertanegara, meski di panggung ia adalah Srivina.

 

Namun takdir terlalu cepat menutup tirainya.

Di malam tragis itu, setelah menari di sebuah pesta perkawinan di Tanah Raja, andong tua yang membawa mereka dicegat.

Dalam gelap kebun rambung, suara kendang terakhir mereka ditelan bunyi parang, jeritan, dan sunyi yang abadi.

Ayu Srivina dan delapan sahabatnya dibunuh, tubuh mereka ditinggalkan begitu saja, dibungkam selamanya oleh sejarah yang tidak mau mencatat.

Hanya seorang yang tetap mencari: Mbok Titin, ibunda Ayu. Ia menolak percaya bahwa putrinya telah tiada. Dua puluh tahun lamanya ia menyusuri kabar, bertanya pada setiap pelaut, mandor, bahkan orang Belanda yang ia temui di pelabuhan.

Namun Ayu tak pernah kembali. Hanya kenangan yang tinggal, dan pusara tak bernama di tengah kebun sawit.

Seratus tahun kemudian, kisah Ayu Srivina kembali muncul lewat seorang spiritualis yang merasakan kehadirannya. Dari balik semak dan tanah yang dipenuhi akar tua, suara Ayu kembali menyentuh dunia.

“Aku hanya ingin dikenang… sebagai penari dari Desa Kertanegara. Yang mencintai ibunya. Yang menari bukan untuk pujian, tapi untuk menghidupkan harapan.”

Kini, namanya memang tak tercetak di buku sejarah resmi. Tapi bagi mereka yang percaya bahwa ingatan bisa diwariskan dari satu generasi ke generasi lain, Ayu Srivina bukan sekadar gadis desa.

Ia adalah lambang dari mimpi yang direnggut, dari kecantikan yang dibungkam, dan dari semangat perempuan muda yang pernah menyulut cahaya di tengah zaman yang gelap.(Akbar)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *