Ketika ilmu agama mulai ditinggalkan dan amar ma’ruf nahi munkar tidak lagi ditegakkan, manusia seolah-olah hidup dalam kebodohan yang merata.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
> “… Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.” (QS. Yusuf: 76)
Ketika ilmu agama semakin langka, manusia menjadi semakin seragam dalam kebodohan, yang pada akhirnya mempercepat kemunduran peradaban.
4. Kemajuan Teknologi yang Mendekatkan Jarak
Beberapa ulama juga menafsirkan bahwa berdekatannya zaman mengacu pada kemajuan teknologi yang mempercepat perjalanan dan komunikasi.
Dulu, perjalanan antar kota atau negara memakan waktu berbulan-bulan, tetapi sekarang bisa ditempuh dalam hitungan jam.
Perkembangan teknologi ini membuat jarak terasa lebih dekat dan waktu terasa lebih singkat.
5. Waktu Secara Hakiki Akan Menjadi Lebih Singkat
Sebagian ulama berpendapat bahwa di akhir zaman, durasi waktu benar-benar akan berubah.
Hal ini diperkuat oleh hadis tentang Dajjal, di mana satu hari terasa seperti satu tahun, satu bulan, atau satu pekan.
Fenomena ini bisa terjadi karena perubahan sistem alam semesta menjelang kiamat.
Dampak Singkatnya Waktu dalam Kehidupan Modern
Menurut laman Almanhaj, berkurangnya keberkahan waktu merupakan salah satu tanda kiamat kecil. Fenomena ini dapat dilihat dari beberapa aspek:
Kesibukan yang Berlebihan: Banyak orang merasa tidak memiliki cukup waktu untuk beribadah karena terlalu sibuk dengan pekerjaan dan urusan duniawi.
Kurangnya Produktivitas: Waktu berlalu begitu cepat, tetapi hasil yang dicapai tidak maksimal. Ini menunjukkan hilangnya keberkahan dalam waktu.
Kemerosotan Moral: Dengan semakin jauhnya manusia dari ilmu agama, kemaksiatan dan kebodohan semakin mendominasi.
Ketergantungan pada Teknologi: Kemajuan teknologi memang mempermudah kehidupan, tetapi juga membuat manusia semakin sibuk dan lupa terhadap akhirat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
> “Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi….” (QS. Al-A’raaf: 96)












