TERITORIAL24.COM, BLITAR — Suasana hangat dan penuh semangat gotong royong menyelimuti Desa Rejowinangun saat perayaan tradisi tahunan Bersih Desa tahun 2025 resmi digelar.
Tahun ini, acara yang selalu dinanti warga itu mengusung tema unik dan bermakna: “Nywijine Agama, Adat lan Budoyo, Murih Tata Tentreme Kerto Raharja Rejowinangun Gemati.” Tapi intinya tentang menyatukan nilai agama, adat, dan budaya demi ketenteraman dan kemakmuran desa tercinta.
Kepala Desa Rejowinangun Bhagas Wigasto mengatakan, acara bersih desa berlangsung selama tujuh hari, mulai 30 April sampai 6 Mei. Rangkaian kegiatan pun padat dan meriah. Dimulai dengan kirab panji desa yang digelar malam hari (30/4/2025).
Adapun tujuan dari kirab bendera panji desa menurut Kepala Desa Rejowinangun Bhagas Wigasto adalah untuk meneladani perjuangan pendiri desa dengan berjalan sepanjang 2 km yang kanan kiri jalan yang dilewati terdapat penerangan dari obor yang menambah suasana sakral. Meskipun dalam keadaan sunyi senyap dengan hanya penerangan oncor, tetap ramai oleh antusiasme warga. Lanjut keesokan harinya, 1 Mei, ada kenduri massal yang membuat aroma masakan tradisional memenuhi udara desa.
Tanggal 2 ada tahlil pepunden untuk menghormati leluhur, lalu tanggal 3 malamnya digelar pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Sun Gondrong yang selalu jadi favorit warga. Masuk tanggal 4, giliran pertunjukan jaranan yang menggugah semangat.
Tak ketinggalan tanggal 5 ada Qotmil Qur’an, dan puncaknya, 6 Mei, ditutup dengan acara ruwat murwokolo yang sarat makna spiritual dan harapan baik.
Bhagas Wigasto, menjelaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar seremoni, tapi bentuk syukur atas hasil panen dan keberkahan yang diterima warga selama setahun. “Ini juga jadi momen untuk membersihkan desa dari energi negatif dan menjaga keseimbangan dengan alam,” ujarnya.
Yang jelas, semangat kebersamaan dan kecintaan warga pada budaya Jawa benar-benar terasa di tiap sudut acara.
Tradisi boleh tua, tapi semangatnya selalu muda. Bersih Desa Rejowinangun jadi bukti hidup bahwa budaya lokal masih lekat di hati dan terus jadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.












